Wednesday, May 4, 2016

Batik Pring Sedapur, Batik Asli Magetan



Banyak ragam corak batik yang diangkat oleh para pembatik di Indonesia. Salah satunya, kampung di Magetan, Jawa Timur, yang secara turun-temurun menjaga motif batik sesuai dengan nama kampung mereka. Motif bambu menjadi ciri khas batik Magetan. Adalah Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, yang terletak di lereng Gunung Lawu. Desa tersebut menjadi sentra batik bagi Kabupaten Magetan. Saat datang ke Sidomukti, Anda akan disambut dengan patung ibu membatik yang berdiri di gapura desa. Tak berlebihan jika patung ibu membatik itu dibuat sebagai ikon desa. Karena, ibu-ibu di desa itu sebagian besar mempunyai kesibukan membatik. 
Motif bambu atau pring dalam Bahasa Jawa menjadi ciri khas batik yang diproduksi. Pemerintah Kabupaten Magetan menjadikan motif pring sedapur (serumpun bambu) sebagai motif khas Magetan. “Mulai dari nenek-nenek kami dulu, memang sudah ada kegiatan membatik meskipun mereka hanya menjadi buruh. Dan dari dulu, kami diajari bagaimana cara menggambar dan membatik motif bambu, sesuai nama kampung sini, kampung Papringan,” ujar Siswati, Ketua Kelompok Usaha Bersama Rahayu Mukti 1 kepada VIVA.co.id, Minggu, 24 April 2016.
Usaha tersebut semakin berkembang pada 2002, sejak Kementerian Sosial mengucurkan dana untuk memberi pelatihan dan modal kepada kaum perempuan di desa ini. “Di sini ada lebih dari 30 ibu-ibu yang terlbat dalam usaha batik ini. Dari 30 orang itu, kami bagi menjadi tiga kelompok. Kementerian Sosial memberi bantuan sebanyak Rp30 juta per kelompok yang terdiri minimal 10 orang,”. Di desa ini ada tiga lokasi membatik yang ditekuni ibu-ibu, di antaranya di kampung Prapringan, dan di Kantor Desa Sidomukti. Papringan sendiri mempunyai arti sebagai tempat tumbuhnya bambu atau pring. Motif bambu dipilih, karena tanaman berakar serabut itu banyak tumbuh dan menginspirasi untuk diabadikan dalam kain batik sejak dulu. 
Namun, dalam perkembangannya motif batik tidak melulu hanya motif bambu, berkembang ke motif lain. “Tetapi motif sekarang tetap pada hasil bumi di Magetan, seperti wortel dan sayur mayur lain,”. Dia memaparkan, dalam sebulan satu kelompok bisa menghasilkan 500 hingga 600 helai kain dengan ukuran 2,25 x 1,5 meter. Pemasaran batik tersebut tak hanya di Magetan, tetapi juga ke Jakarta, Kalimantan, Bogor, Malang, bahkan sebuah dinas di Papua pernah memesan untuk seragam batik kantor. Meski hanya sebagai sampingan ibu-ibu dalam mencari uang tambahan, rupanya usaha ini tidak bisa dipandang sebelah mata.  Sehari mereka mendapat uang Rp25 ribu. Tentunya, penghasilan yang tidak sedikit bagi ibu-ibu yang tinggal di desa. “Penghasilan ibu-ibu ini, berdasarkan berapa hari dia membatik dalam sebulan. Dengan hitungan Rp25 ribu per hari. Semakin sering membatik, semakin banyak didapat,”.
Selain menjadi ciri khas, motif batik Magetan banyak disukai para pembeli karena ada karakter pada motif bambu tersebut. Harga satu helai kain batik dengan motif bambu produksi ibu-ibu kampung Prapringan ini beragam. Harga terendah mulai Rp135 ribu hingga Rp1 juta, tergantung tingkat kesulitan dalam corak batik.

Batik Bisa Jadi Ikon Paket Wisata



Para pembatik di Kabupaten Pekalongan selama ini tidak bisa menentukan harga hasil produksinya sendiri. Pasalnya, sejauh ini mereka masih memberikan hasil produksinya kepada pengepul. Sehingga, selamanya para pembatik akan menjadi buruh bagi karya mereka sendiri. Padahal, batik berpotensi menjadi salah satu daya tarik untuk mengembangkan potensi daerah, melalui paket wisata batik.
“Kelemahan utama bagi para pembatik adalah mereka tidak bisa menentukan harga sendiri. Dikasih ke pengepul, kemudian pengepul yang jual. Perajin dibeli pengepul dengan harga Rp500ribu, kemudian pengepul jual dengan harga Rp1,5juta. Ya yang untung pengepul, kasihan para pembatiknya, selamanya akan jadi buruh,” terang Kepala KCU Pekalongan Tjandra Setiabekti dan Head of CSR BCA Sapto Rachmadi di sela-sela Pelatihan Layanan Prima yang diselenggarakan PT Bank (BCA) di Hotel Santika Pekalongan.
Pelatihan yang menghadirkan 40 orang pengurus dan staff di lingkungan Kampung Batik Gemah Sumilir, Wiradesa, Pekalongan ini, sekaligus sarana memberikan wahana agar para pembatik dapat menjual produk mereka. Menurutnya, Pekalongan dengan batiknya sangat potensial untuk dikembangkan. Pihaknya akan membantu memberikan pembinaan kepada para perajin agar lebih profesional. Terlebih, saat ini Koperasi Gemah Sumilir baru mulai dibuka, tidak hanya untuk batik, namun juga tenun dan kerajinan.
“Kita bentuk pelatihan awal dulu. Kelemahan utama desa-desa wisata adalah SDMnya. Kita selalu bicara tentang pembangunan sarana fisik, padahal yang paling penting adalah membangun SDMnya. Oleh karena itu, perlu adanya pembinaan agar mereka dapat mengelola usaha dan lingkungannya,”.
Sehingga, diharapkan, kelak orang-orang tidak hanya datang beli batik saja, namun juga belajar bagaimana prosesnya, serta dapat berwisata ke daerah-daerah lain di Pekalongan. “Potensi wisata Kabupaten Pekalongan kan banyak. Itu bisa jadi ide bagus untuk dijadikan semacam paket wisata. Selain batik dan tenun, mereka (pembatik) juga bisa jualan paket wisata disini,”.
Sementara, Kepala KCU Pekalongan Tjandra Setiabekti, menambahkan, setelah melakukan pendampingan kepada desa wisata di beberapa daerah di Indonesia yang memiliki karakteristik berbeda-beda, BCA melihat bahwa Pekalongan memiliki daya tarik tersendiri melalui Batik-nya yang dapat dikembangkan untuk menarik wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri.
“Sebagaimana diketahui batik Indonesia secara resmi diakui oleh Unesco dengan dimasukkan dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity). Hal ini merupakan pengakuan internasional terhadap salah satu mata budaya Indonesia, sehingga diharapkan dapat memotivasi dan mengangkat harkat para perajin batik dan mendukung usaha meningkatkan kesejahteraan rakyat,”.
Eksistensi Kota Pekalongan sebagai salah satu kota Batik di Indonesia menjadi sangat telihat pasca penetapan tersebut, terlihat dari pertumbuhan UKM Batik Kota Pekalongan yang hingga November 2015 memiliki jumlah UMKM 19.615 unit dengan nilai omzet Rp1,84 triliun, serta aset Rp1,88 triliun.

Be Someone Who Seeks Comfort And Style