Wednesday, October 12, 2016

Pameran Batik JIBB 2016 di Yogyakarta




Batik bagi orang jawa bukan sekadar pakaian biasa, namun setiap motif yang tergores dalam batik itu mempunyai nilai filosofis yang begitu tinggi. Kali ini Yogyakarta menggelar pameran batik JIBB (Jogja International Batik Biennalle) 2016 di JEC Center, Jl. Raya Janti, Bantul, Yogyakarta. Pameran batik JIBB digelar selama lima hari, mulai hari Rabu sampai hari Minggu. Acara ini dibuka langsung oleh Ibu Wakil Presiden RI Mufida Jusuf Kalla dan Sultan Hamengku Buwono X. Mufida Jusuf Kala juga sempat membatik sebagai simbol peresmian acara ini digelar. Ratusan motif batik di pajang dengan indah di sana. Pengunjung juga bisa melihat motif koleksi Karaton Ngayogyakarta, koleksi Batik Pura Paku Alaman, dan koleksi Batik Pura Mangkunegaran Surakarta. Namun koleksi batik dari Karaton Kasunanan absen dari acara JIBB 2016 yang digelar penuh semarak di Yogyakarta ini.
Beberapa batik koleksi milik Kesultanan Yogyakarta di pameran JIBB adalah: batik Parang Barong, batik Parang Kemitir batik Kampuh Semen Raja, batik Cempok Purnam, dan masih banyak koleksi lainnya. Nah, batik Parang Barong merupakan batik parang rusak dengan ukuran paling besar yaitu 8 cm ke atas. Dulunya motif batik ini dipakai hanya oleh seorang raja, mempunyai makna agar raja atau pemimpin harus selalu hati-hati agar dapat mengendalikan diri (lahir batin), sehingga menjadi pemimpin yang bertanggungjaawab, berwatak, dan berprilaku luhur. Sedangkan motif batik Kampuh Semen Raja dibuat untuk dipersembahkan kepada raja sebagai rasa hormat, dan penghargaan kepada seorang raja pemimpin dari rakyat. Batik Kampuh ini biasanya dipakai saat upacara kebesaran di keraton, seperti penobatan raja, dan pernikahan putra-putri raja. Selanjutnya di koleksi Pura Pakualaman terdapat juga foto Paku Alam X yang menggenakan batik bersama keluarganya.
Tepat di belakang koleksi Pura Pakualaman, koleksi batik indah Pura Mangkunegaran Surakarta yang penuh filosofis juga tak kalah menarik untuk disimak. Koleksi batik di sini motiftnya bernilai filosofis tentang cerita anak manusia, mulai dari kelahiran, pernikahan, sampai kematian. Misalnya saja motif batik Semen Cuwiri (Kopohan). Batik ini biasanya digunakan saat kelahiran bayi dari keluarga pangeran. Bayi yang lahir itu diberi alas batik yang sudah tua milik neneknya. Kain ini disebut “kopohan” yang berarti basah, yang mengandung harapan agar si bayi nantinya dikaruniai umur panjang seperti neneknya. Dan kain itu berpola mempunyai arti filosofis yang baik, sehingga kebaikan akan terbawa oleh bayi yang masih suci ini terbawa hingga ia dewasa nanti. Pada motif batik tersebut mengingatkan kita pada batik Kopri di zaman orde baru, yaitu saat Soeharto menjadi Presiden RI selama 32 tahun. Kesamaan motif batik Semen Cuwri dengan batik Kopri zaman Soeharto adalah gambar burung garuda di dalam motif batik tersebut.
“Di zaman orde baru, batik Kopri memang seperti ini, Mas, ada burung garudanya di seragam batik tersebut,”.
Salah satu mendunianya batik di Indonesia tak terlepas dari Ibu Tien Soeharto. Beliau memang kerap mempromosikan batik ke internasional, salah satunya dengan selalu memakai batik setiap ada acara di luar negeri. Begitu juga dengan Soeharto. Di zaman orde baru batik mulai disorot dunia internasional,  tentu saja ini salah satu kiprah jejak budaya batik dalam sejarahnya.
“Ibu Tien Soeharto dari keluarga Mangkunegaran, itu juga motif batik dari Surakarta ini memengaruhi motif batik Kopri pada zaman Soeharto,” kata dia lagi.
Namun di tahun 2012, batik Kopri sudah berganti karena menuai kontroversi setelah tumbangnya rezim orde baru. Di pameran JIBB ini karya-karya batik yang sangat indah dari berbagai home industri dan sekolah juga bisa dilihat. Misalnya saja karya batik dari SMP Stella Duce 1 Yogyakarta, yang juga pernah mendapat penghargaan dari MURI, sebagai sekolah pelopor batik karya sendiri.
Duh.. pastinya pengunjung akan geram sekali melihat batik-batik di pameran JIBB Yogyakarta 2016 ini. Kalau pengunjung ingin membatik di sini juga bisa. Di pameran Litbang, salah seorang wanita tampak serius menulis batik di kain yang masih berwarna putih. Dengan canting di tangan ibu itu serius melukiskan goresan batik dengan motif yang ia buat sendiri.
Selain pameran batik yang digelar di sini, pengunjung juga mendapatkan edukasi mengenai batik asli dan batik palsu. Batik palsu alias batik tiruan ini tidak ditulis seperti batik asli, namun menggunakan cap. Dan tiruan yang lain lagi adalah paduan cap batik dengan ditulis.
“Sebenarnya perbedaan batik asli dengan batik tiruan mudah dilihat. Ciri-cirinya batik tiruan terlihat rapi, karena menggunakan cetak. Sementara batik asli tidak terlalu rapi, pasti ada bentuk kesalahan, atau sisa lilin yang meluber,” terang Ridwan penjaga pameran Litbang, katanya lagi, “ada juga batik tiruan yang dicap, kemudian dipadu dengan batik tulis. Namun tetap saja bisa dilihat dari polanya, kalau polanya tampak begitu rapi, itu batik tiruan.”
Selain batik dari Jawa yang dipamerkan, terdapat juga batik-batik dari daerah lain. Misalnya saja batik Motif Perahu Pinishi dari Sulawesi. Batik ini terinspirasi dari Perahu Pinishi dengan filosofisnya menggambarkan katangguhan pelaut Indonesia dalam melintasi samudera. Yang memakai batik ini diharapkan menjadi pribadi yang kuat dan tangguh dalam kehidupan. Nah, jika Anda penggemar lukisan, di sini juga ada batik lukisan. Bermacam-macam lukisan batik dipajang di acara pameran JIBB ini. Yang jadi perhatian saya adalah karya lukisan batik yang membentuk Gunung Merapi. Lukisan batik ini sangat indah dengan memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Ada bermacam-macam motif batik pada lukisan tersebut. Lukisan batik itu karya dari Suhartanto Agung BWA, yang dibuat di Jogjakarta, pada tahun 2016. Para modeling tampak anggun berjalan di cathwalk. Mereka cantik nan anggun memakai beragam design batik dengan konsep yang berbeda-beda. Mulai dari busana batik yang relijius, sampai yang berkonsep modern. Dan semuanya itu cukup keren. Para undangan dan pengunjung tampak menikmati design batik terbaik dari putra-putri terbaik Yogyakarta. Patut diapresiasi, membudayakan batik yang dipadukan dengan style modern tentu akan memberi warna fashion Indonesia ke ranah Internasional lagi





FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Roti Batik Sajian Unik Resto Canting Hotel Dafam



Hari Batik Nasional diperingati warga Indonesia setiap tanggal 2 Oktober. Bermacam cara memperingati hari Batik. Banyak orang mengenakan batik untuk menunjukkan apresisasinya. Tapi ternyata, batik tidak saja hanya dikenakan. Batik bisa juga dimakan.
Hotel Dafam Semarang merayakan hari batik tahun ini menampilkan sajian khas spesial untuk para tamu berupa roll cake Batik. Roll cake atau disebut juga roti gulung oleh chef pastry Hotel Dafam Semarang dibuat tampil cantik menarik dengan tambahan motif batik nusantara lapisan atasnya.

Roti bolu gulung dibuat dari adonan bolu kukus dengan isian butter original atau coklat plus parutan keju sedangkan lapisan terluarnya diberi hiasan motif tema batik nusantara. Ada motif batik Ceplok Grompol Yogyakarta, Mega Mendung Cirebon, Parang, Sido Mukti, Kawung, Gonggong Batam dan Sinaran Madura. Rasa aroma bolu gulung bermotif batik dengan keunikan motif dan warna-warninya membuat mata tertarik pada pandangan pertama. Roll Cake Batik ini bisa dinikmati di resto Canting pada saat breakfast atau bisa juga pesan tersendiri sebagai teman pasangan minum kopi, teh sambil meeting bisnis dengan kolega di lounge Hotel Dafam Semarang.

“Bagi anda yang berencana berkunjung dan menginap di kota Semarang, Hotel Dafam Semarang adalah pilihan yang tepat karena kami memberikan harga spesial untuk Senin – Jumat di bulan Oktober 2016. Promo paket kamar spesial ini diberi nama Octofest. Hanya dengan Rp 388.000,- (++) room/night, anda dapat menginap di kamar dengan tipe deluxe di Hotel Dafam Semarang. Paket harga promo tersebut sudah termasuk makan pagi untuk 2 orang, gratis penjemputan dari dan menuju stasiun atau bandara, gratis penggunaan ruang fitness, discount up to 50% spa treatment, wifi 24 jam nonstop,”

Ari menambahkan, sedangkan di akhir pekan, Hotel Dafam Semarang bulan Oktober ini juga memberikan spesial rate bagi anda yang berniat berlibur di kota Semarang. Dengan harga Rp. 298.888,- (++) room only, dapat menginap di kamar dengan tipe deluxe di hari Sabtu atau Minggu. Paket promo ini bernama ‘Someday’ in Dafam (Sabtu Minggu Holiday di Dafam).





FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Sunday, October 9, 2016

Selembar kain batik Dewa Ruci ditawar Rp250 juta



Selembar kain batik "Dewa Ruci" milik seniman batik Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Sapuan, sudah ditawar kolektor seharga Rp250 juta.

Sang pemilik, Sapuan, di Pekalongan pada Rabu mengatakan, masalah batik tidak akan lepas dari proses dan bukan sekadar menyoal "printing".

Ia menjelaskan ada batik yang penggarapannya halus dengan mengedepankan seni dan roh penjiwaan dalam membuatnya.

Hal itu, katanya, menaikkan gengsi suatu produk batik. 

Oleh karena itu, ia mengaku tidak heran jika selembar kain batik bertema "Dewa Ruci" miliknya tersebut pernah ditawar kolektor Rp250 juta.

"Akan tetapi, karena saat itu untuk mengisi materi pameran di Istana Negara sehingga waktu itu belum saya lepas," katanya.

Bupati Batang Asif Kholbihi mengatakan bahwa harga batik yang fantatis, antara lain karena latar sejarah batik yang panjang hingga menjadi budaya di Kabupaten Pekalongan dan corak penggarapan. 

Proses pembuatan batik yang membutuhkan waktu panjang dengan penggarapan yang halus, ketelitian yang tinggi, hingga pesan yang terkandung di dalam karya seni batik, kata dia, membuat kerajinan itu makin diminati oleh para kolektor dan masyarakat umum.

Ia menyebut wajar terhadap harga batik yang bisa fantatis tersebut.

"Proses pembuatan kain batik yang butuh waktu panjang dengan penggarapan yang halus, ketelitian yang tinggi hingga pesan yang terkandung di dalam karya seni batik tersebut maka masyarakat akan mengenalnya," katanya.



FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Batik Bagian Ekonomi Kreatif sebagai Pilar Penerimaan Negara







Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui visi Nawacita dinilai terbukti serius memajukan ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar perekonomian negara. Ketua Citra Kartini Indonesia - Perkumpulan Pemberdayaan Perempuan (CIRI) Ayu Reni Rosan mengatakan, banyak  karya seni yang menjadi komoditi ekonomi kreatif yang lahir dari masyarakat dari Sabang sampai Merauke, antara lain batik dan tenun.

"Dengan kata lain masyarakat  Indonesia sesungguhnya orang-orang kreatif dan sudah sejak lama mengandalkan buah kreativitas sebagai daya ekonominya," kata Ayu Heni Rosan di Kemang Timur, Jakarta Selatan, Minggu (02/10/2016).

Menurutnya, batik adalah salah satu bukti nyata ihwal tersebut. Bahkan UNESCO sudah menobatkan batik sebagai karya asli bangsa Indonesia dan merupakan salah satu warisan budaya dunia. Pada 2 Oktober sendiri, merupakan hari bersejarah yang diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Sebagai wujud kepedulian CIRI turut melestarikan batik, Ayu belum lama ini mengundang high tea bersama 14 isteri para Duta Besar untuk Indonesia sharing kebudayaan bertajuk "Nusantara Art, Culture & Culinary Heritage Indonesia. Tampak Ayu didampingi pegiat pelestarian batik pesisiran khususnya Kudus, Miranti Serad Ginanjar.

"Para madame sangat antusias mendengar cerita proses dari membatik dan mencoba membatik, terutama Madame Agatha, isteri Dubes Polandia yang sangat antusias membatik dengan arahan Bu Miranti Serad," ujar Ayu.

Menurut Miranti yang juga pembina batik, berdasarkan hasil riset antropolog dan kurator dari British Museum, Polandia, DR Maria Wronska Frens, diketahui mempunyai Javanesse - Polski Batik (wax dyeing textile) di Cracow Workshop sejak 1913-1926 dengan teknologi wax dyeing. Dia menambahkan juga mengutip hasil riset dua ilmuwan Cracow, yaitu Marian Raciborski dan Michal Siedlecki, bahwa di awal tahun tersebut bahkan di tahun 1980 The Art Academy Luczniva serius mengembangkan tehnik wax dyeing tersebut. 

"Kehadiran CIRI untuk saling mendukung sesama perempuan dalam mewujudkan peran perempuan dalam keluarga sebagai garda terdepan yang penuh dengan daya cipta dan kreatifitas untuk terus membuka wawasan akan pentingnya peran perempuan di berbagai bidang," tutur Miranti.

Diterangkan lewat beberapa program yang sedang dirintis seperti;  program pembinaan kain di pesisir, kain Batak, kain Bali, dan kain NTB lewat Indonesia Women Expo 2016, CIRI berharap mampu membuka dan memperluas kesempatan bagi kaum perempuan untuk lebih mengembangkan potensi dirinya serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya melalui  pengembangan aktivitas ekonomi yang lebih produktif.

"Kami percaya usaha kami ini tidak sia-sia, sehingga posisi tawar kaum perempuan dalam mengakses sumber daya ekonomi dengan memiliki daya cipta serta kreatifitas yang dapat membuat inovasi dalam pemberdayaan keluarga dan ekonomi menjadi lebih baik, karena dengan memberdayakan perempuan berarti memelihara kehidupan," tukas Ayu.

Hadir pada acara tersebut, antara lain madame Yasmin Fachir (Spouse of Vice Minister Foreign Affair RI), madame Agata (Spouse of Ambassador Poland), madame Nino (Spouse of Ambassador Georgia), madame Amany (Spouse of Ambassador Jordania), madame Jitka (Spouse of Ambassador Czech), madame Elvira (Spouse of Ambassador Italy), madame Lenise (Spouse of Ambassador Brazil), madame Houda (Spouse of Ambassador Tunisia), Madame Durhan (Spouse of Ambassador Turkey), Madame Datin Masnunah (Spouse of Ambassador Brunei Darussalam), Madame Syed Mustari (Spouse of Ambassador Bangladesh), Madame Badriya (Spouse of Ambassador Oman), Madame Khikoyat Jamolova (Spouse of Ambassador Uzbekistan), dan Madame Yeon Young (Spouse of Ambassador Korea to Asean). Citra Kartini Indonesia (CIRI) adalah perkumpulan nirlaba pemberdayaan perempuan baik itu kuliner, art, fashion seperti ciri kain Nusantara, ciri kuliner Indonesia





FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Saturday, October 8, 2016

Meski Diguyur Hujan, Arak-arakan Batik Berlangsung Meriah




Pelaksanaan Arak-arakan Batik yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan berlangsung meriah, meskipun diguyur hujan, Sabtu (8/10). Para peserta maupun penonton tetap antusias mengikuti acara hingga selesai.
Di tengah guyuran hujan, warga Kota Pekalongan memadati sejumlah ruas jalan yang dilewati iring-iringan peserta Arak-arakan Batik. Dimulai dari Alun-alun Kota Pekalongan, peserta menyusuri Jalan Hayam-Jalan Pemuda-Jalan Imam Bonjol-Jalan Diponegoro dan berakhir di kawasan Jetayu.
Dalam Arak-arakan Batik tersebut, peserta menampilkan beragam kreasi batik dengan tema flora dan fauna. Misalnya angsa, mangrove dan kupu-kupu yang ditampilkan siswa-siswa dari SDN Kuripan Lor 01. Arak-arakan Batik terbagi menjadi lima kategori. SD, SMP, SMA, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan umum.
Arak-arakan Batik juga dimeriahkan dengan beragam kesenian. Di antaranya Tari Halong yang dimainkan siswa Kota Pekalongan, Tari Angguk Suko dari Kabupaten Boyolali, Team Hore Kradenan dan Kesenian Bambu Berisik. Pawai dibuka oleh Marching Band dari Taruna Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang, dan ditutup juga dengan Marching Band SMK Medika. Artis Pong Harjatmo juga ikut memeriahkan pawai hari itu.
Ia berjanji, pada pelaksanaan tahun depan akan lebih meriah dan melibatkan warga Kota Pekalongan lebih banyak lagi. Dia berharap dengan rutin digelarnya pawai batik ini kecintaan masyarakat Pekalongan terhadap batik semakin meningkat.



FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Arti Batik Bagi Era Soekamto




Perkembangan batik belakangan ini memang cukup memuaskan. Kain batik telah menunjukkan eksistensinya dengan ragamnya yang menarik. Batik erat dikaitkan dengan kebudayaan etnis Jawa, bahkan sudah dikenal semenjak zaman Raden Wijaya pada masa kerajaan Majapahit. Setelah akhir abad XVIII, batik mulai meluas menjadi milik rakyat Indonesia.
"Batik itu sejarahnya memang dari Jawa. Enggak bisa dimungkiri motif-motif dalam batik itu kronogram, yaitu memiliki pesan khusus buat peradaban ini. Hanya saja euphorianya banyak daerah yang membuat batik, sebenarnya itu enggak masalah, hanya tidak perlu disebut batik bila prosesnya di-print," ujar Era Soekamto selaku desainer batik
Dia menambahkan bahwa batik yang sesungguhnya memiliki proses teknik membatik dengan menggunakan canting dan mengandung pesan.
"Jadi batik itu ada dua macam, yakni teknik membatik dengan menggunakan canting, baik itu cap maupun tulis. Yang kedua, memiliki pesan atau arti di balik motif dan motif yang asli itu memiliki konsidental,"
Sementara itu, batik sendiri awalnya dibuat dengan menggunakan kain mori. Kemudian dewasa ini batik dibuat juga dari bahan-bahan lainnya, misalnya sutera, rayon atau poliester. Dan dalam memeringati Hari Batik Nasional dan Ulang Tahun Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) ke-30, digelar The Spectrum of Batik. Acara yang berlangsung di pusat perbelanjaan Senayan City ini mengangkat simbol keberagaman batik dari setiap desainer anggota IPMI.
Sedikitnya 23 desainer memamerkan satu koleksi batik dengan menggunakan tata cahaya yang sangat dramatis menggunakan fiber optic. Tata cahaya yang diciptakan dibuat sedemikian rupa seolah menggambarkan ide yang datang dari Sang Pencipta melalui sebuah karya. Sementara itu, keterkaitan  batik terhadap cahaya yang dimaksudkan adalah banyaknya arti dan filosofi batik yang bercerita tentang cahaya, sehingga terciptalah konsep ini. Beberapa desainer yang ikut serta dalam pameran ini, seperti Era Soekamto, Didi Budiardjo, Sebastian Gunawan, Ghea Panggabean, Choosy Latu dan Carmanita.


FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Friday, October 7, 2016

Melihat Karya Batik Pekalongan Senilai Ratusan Juta




Bicara batik, tak lepas dari bicara proses, dan bukan hanya sekadar menyoal printing saja. Namun ada batik yang penggarapannya halus dengan mengedepankan seni dan ruh penjiwaan dalam membuatnya sehingga menaikkan gengsi suatu produk seni budaya tersebut. Tak heran jika selembar kain batik yang bertema Dewa Ruci karya Sapuan, salah seorang seniman batik asal Desa Delegtukang, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, pernah ditawar kolektor hingga Rp250juta. Bahkan tawaran senilai fantastis itu tidak ia lepas lantaran saat itu batik Dewa Ruci sengaja diperuntukan untuk mengisi materi pameran di Istana Negara.
Menurut Sapuan, nilai tinggi seni batik yang harganya mencapai ratusan juta rupiah itu dipengaruhi dari proses pengerjaannya yang membutuhkan waktu lama, dan memiliki kesulitan yang tinggi dalam penggarapannya. Baik dari teknik membatik, pewarnaan hingga memberikan “ruh” pada produk setiap pembatikannya. “Selama ini batik yang saya produksi, saya simpan di Jakarta. Kalau dijual sekarang harganya 100 juta dan akan selalu naik harga dan nilainya pada setiap tahunnya. Mereka yang membeli Batik saya adalah kolektor barang seni khususnya Batik,” aku Sapuan.
Ia mengaku, memang awalnya ia berpikir bisnis ketika memulai berkecimpung di dunia batik, dengan kalkulasi yang tidak terlalu ribet dan rumit, cepat jadi, cepat dapat duit. Namun, dalam perjalanan waktu, ternyata saya memang tidak diranah itu. “Saya mulai belajar proses tentang batik sehingga mengerti tentang filosofi batik, yang disitu mengandung makna kehidupan, kebersamaan, keuletan dan kultur masyarakat Kabupaten Pekalongan. Sehingga untuk itu kami menempatkan batik sebagai sebuah mahakarya yang tinggi yang didalamnya ada sentuhan seni yang bernilai tinggi,” tandasnya. Setiap pembatik rata-rata menghabiskan waktu hingga dua tahun untuk proses pembuatan selembar batik. “Bisa dibayangkan betapa halus pembuatan batik ini, dan betapa ekslusifnya batik ini,” tutur Sapuan yang juga berprofesi sebagai guru di SMP 2 Paninggaran.

Proses Panjang

Sementara, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi juga menyampaikan tentang adanya produk batik di Kabupaten Pekalongan bernilai hingga 20 ribu dollar lebih di setiap lembarnya. Hal itu juga ia ungkapkan dalam kesempatan pertemuan beberapa duta besar di Jakarta akhir pekan kemarin. Menurutnya itu wajar. Sebab, batik memang menjadi produk seni yang dicari bagi mereka pecinta seni batik. Hal ini terkait dengan kehalusan dan corak batik yang memiliki makna dalam kehidupan dan unsur seni yang tinggi.
“Nilai fantatis tersebut wajar. Karena disamping latar sejarah batik yang panjang hingga menjadi budaya di Kabupaten Pekalongan. Sehingga mempengaruhi corak penggarapannya. Serta proses pembuatannya yang butuh waktu panjang dengan penggarapan yang halus, ketelitian yang tinggi hingga pesan yang terkandung di dalam karya seni batik tersebut,” terang Asip, kemarin.
Ia menambahkan, batik yang memiliki nilai ekonomis ini erat kaitannya dengan kandungan seni yang tinggi didalamnya membutuhkan proses penggarapannya yang begitu lama  dan membutuhkan keuletan serta ketelitian.
“Ketika memperoleh informasi ini para duta besar tersebut begitu takjub dan mereka menyampaikan keterarikannya untuk berkunjung di Kabupaten Pekalongan untuk menikmati produk batik di Pekalongan,”




FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Fashion Show Mahakarya Batik Meriahkan PBN 2016, Hasil Karya sejumlah Desainer



Dalam rangka memeriahkan Pekan Batik Nusantara (PBN) 2016, sekaligus mengapresiasi atas mahakarya desainer batik, Pemkot Pekalongan menggelar gala dinner dan Fashion Show dengan tema ‘Mahakarya Batik Pekalongan’ di halaman Museum Batik, Selasa (4/10) malam.
Sebanyak sembilan desainer batik Pekalongan dan empat desainer dari SMESCO (Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil Menengah atau LLP-KUKM bentukan Kementerian Koperasi dan UKM), turut meriahkan fashion show tersebut. Busana-busana batik yang ditampilkan itu antara lain oleh para desainer dari Wirokuto Batik, Batik Pesisir, Batik Smesco, Tobal Batik, Batik Qonita, Batik Zikin, Batik Kalongguh, Batik Luza dan lain sebagainya.
Meski sempat diguyur hujan, namun antusias tamu undangan serta masyarakat sangat tinggi untuk menyaksikan beragam desain busana batik yang disuguhkan dan diperagakan puluhan model wanita cantik dan beberapa model pria itu. Acara dimeriahkan pula dengan penampilan Nina Tamam. Penyanyi mantan anggota kelompok vokal ‘Warna’ itu menghibur seluruh tamu yang hadir dan masyarakat yang menyaksikan perhelatan fashion show.
Turut hadir dalam gala dinner dan fashion show ini, Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, Walikota Pekalongan HA Alf Arslan Djunaid, para pemerhati dan pecinta batik, jajaran forkompinda setempat, serta masyarakat umum. Ketua Pekan Batik Nusantara (PBN) 2016, Slamet Prihantono menyampaikan, fashion show ini sekaligus untuk memberikan kesan bahwa kain batik juga bisa dibuat secara ‘fashionable’.
“Bahkan pertunjukan busana ini sekaligus menjadi momentum untuk mengetahui tren batik 2017 mendatang akan seperti apa,” kata dia.
Dia menambahkan, para pengrajin batik dan desainer batik asal Pekalongan itu patut diapresiasi karena terus mengalami pertumbuhan pesat. Bahkan, berdasarkan datanya, produsen batik asal Pekalongan menyumbang pasokan 60-70 persen batik yang ada di Indonesia. “Mitra kerja pengrajin batik di Pekalongan sudah cukup banyak dari luar kota.
Tidak mengherankan kerajinan batik di sini terus tumbuh dan memasok 60-70 persen batik di seluruh Indonesia,” kata dia.
Sementara itu Walikota Pekalongan, HA Alf Arslan Djunaid berharap perkembangan usaha batik saat ini mampu menjadi penggerak kegiatan ekonomi rakyat yang mendominasi masyarakat Kota Pekalongan, agar mampu membantu perekonomian rakyat dan berbasis kearifan lokal dan kebudayaan. Ia juga mengatakan bahwa sebuah survei berdasar data Kementerian Perdagangan RI, menunjukkan 70 persen responden mengenal dan memberi apresiasi kepada produk batik. Angka 70 persen responden itu juga mengaku menggunakan batik minimal sekali dalam sebulan. Hal itu menunjukkan pencapaian yang cukup baik di bidang batik oleh masyarakat Indonesia maupun luar negeri. “Upaya ini terus kita gelorakan termasuk pada gelaran fashion show dan PBN 2016 ini agar capaian dari survei tersebut bisa meningkat, sehingga hampir bisa dikatakan bahwa seluruh dunia mengenal Batik khususnya Batik Pekalongan,” Alex, sapaan akrabnya.
Kepala Bekraf, Triawan Munaf, mengungkapkan bahwa pemerintah sangat mendukung produksi batik di Indonesia. Bentuk dukungan tersebut salah satunya diwujudkan dalam pelarangan masuknya produk tekstil yang mirip batik. “Produk tekstil yang mirip batik itu sudah dilarang, tujuannya untuk melindungi produsen batik dalam negeri. Tekstil yang memiliki motif batik tersebut bukanlah kain batik. Batik yang asli adalah batik tulis atau cap. Selain itu hanya tekstil yang motifnya mirip batik,” ungkapnya.
Desainer sekaligus pemilik Batik Wirokuto, H Romi Oktabirawa, mengapresiasi adanya Pekan Batik yang dilaksanakan rutin tiap tahun. Even tersebut sangat diperlukan untuk membangun branding batik Kota Pekalongan. Romi menambahkan, momentum itu digunakan pula sebagai sarana untuk mengedukasi masyarakat tentang batik asli. Dia menjelaskan, batik merupakan proses, hingga menjadi kain batik.




FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Wednesday, October 5, 2016

Terpukau Penampilan Blora Fashion Carnival, Kali Pertama Digelar untuk Peringati Hari Batik



Diluar dugaan. Pagelaran Blora Fashion Carnaval (BFC) yang kali pertama di Kabupaten Blora menyedot ribuan penonton kemarin (1/10). Apalagi kreasi yang dipentaskan peserta tak kalah menarik dengan yang digelar tingkat Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Peserta yang ingin tampil di BFC ini membeludak. Bahkan, panitia terpaksa membatasi jumlah peserta yang tampil. “Banyak pendaftar belum mendapat kesempatan ikut menampilkan kreasi dan tampil dalam Blora Fashion Carnaval (BFC) ini. Karena keterbatasan waktu, kami terpaksa membatasi para pendaftar. Kalau tidak, bisa sampai malam. Sebelum pukul 18.00 sudah selesai,” ungkap Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora Slamet Pamuji usai BFC kemarin.
Mumuk – sapaan akrap Slamet Pamuji- menambahkan, semuanya di luar dugaan panitia dan dinas terkait. Sebab, para peserta yang ikut BFC ini sangat menakjubkan. Penonton juga sangat antusias sekali. “Tahun depan kita perlu atur waktu lagi agar semua warga Blora yang ingin ikut berpartisipasi bisa tampil,” tambahnya.
BFC ini, lanjutnya, sebagai salah satu cara Pemerintah Kabupaten Blora memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh hari ini (2/10). Namun, acara digelar kemarin (1/10). “Cari hari baik, malam minggu dan malam satu sura,” jelasnya.
Mumuk berharap, adanya pagelaran BFC ini dapat menumbuhkan cinta batik bagi masyarakat Blora. Apalagi, Blora juga memiliki batik tulis. Sementara itu, Sugiyanto, kepala Bidang Pariwisata Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora mengakui, animo penonton dan peserta sangat luar biasa. Meski, ada beberapa evaluasi yang akan dilakukan. Di antaranya penataan peserta agar tidak terlihat semrawut. “Untuk penonton juga perlu penataan. Mereka berebut selfi dengan peserta BFC,” imbuhnya.
Dia mengaku, BFC ini berkat kerjasama antara pemerintah Kabupaten Blora, DPPKKI, BAPPEDA dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Blora. “Acara berlangsung meriah dan sukses. Terima kasih untuk semuanya atas partisipasinya dalam acara ini,” imbuhnya.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus, satu per satu peserta tampil di panggung kehormatan depan pendapa Kabupaten Blora. Mereka unjuk kebolehan di hadapan bupati, wakil bupati, dan pejabat lainnya. Puluhan kelompok tampil dengan berbagai kreasi. Masing-masing tampil dengan manakjubkan. Bahkan, penonton tak mau kalah. Mereka mengabadikan momen spesial itu dengan kamera handphone dan selfie.
Usai tampil di depan panggung kehormatan, peserta mengitari Alun-Alun Blora. Setelah sampai di selatan alun-alun, mereka kembali menampilkan atraksi di depan juri dan penonton. Dari 27 kelompok peserta yang tampil menjadi 33 kelompok. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok mulai umum, kecamatan dan sekolah.
Ainur Rohmah, salah satu penonton mengaku, senang dan bahagia melihat BFC tersebut, sebab acara itu baru kali pertama dilihatnya. Dalam bayangan acara tidak seperti itu. Setelah pelaksanaan menakjubkan. Apalagi kostum yang dipakai peserta sangat menarik. “Luar biasa. is the best acaranya,”




FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

LPPM UNY Gelar Pengabdian Membatik bagi WBP Lapas Wirogunan Yogyakarta



Pusat Studi Wanita dan Gender LPPM UNY melakukan kegiatan pengabdian berupa pelatihan keterampilan membatik bagi Warga Binaan Penghuni (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Wirogunan Yogyakarta khususnya wanita, di aula Lapas Wirogunan Yogyakarta yang diikuti sekitar 75 orang.
“Berdasarkan data yang tercatat di Lapas Wirogunan Yogyakarta jumlah napi wanita sebanyak 109 orang, rentang usia 20-70 tahun kebanyakan terjerat kasus narkoba dan penipuan, hal ini menjadi keprihatinan semua pihak khususnya Pusat Studi Wanita dan Gender LPPM UNY yang terpanggil untuk melakukan pembinaan terhadap wanita penghuni lapas melalui pelatihan keterampilan membatik,” ungkap Kepala Pusat Studi Wanita dan Gender LPPM UNY Dr Kokom Komariah MPd saat memberi sambutan pada kegiatan tersebut.
Diharapkan setelah mendapatkan pelatihan keterampilan membatik ini, WBP Lapas Wirogunan memiliki life skill untuk bisa dikembangkan saat bebas nanti.
Sementara itu Sekretaris LPPM UNY Prof Dr Siswantoyo MKes AIFO mengatakan, ke depannya tidak hanya warga binaan wanita saja yang mendapatkan pembekalan life skill seperti ini namun LPPM UNY melalui pusat-pusat studinya akan mengobservasi kebutuhan Lapas Wirogunan dalam membantu memberikan pembekalan keterampilan bagi warga binaannya.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Wirogunan Ganif Effendi mengatakan, warga binaannya sangat memerlukan pelatihan keterampilan seperti ini karena Lapas Wirogunan sangat terbatas sarana dan prasarananya.
“Kami sangat berterimakasih kepada LPPM UNY, pelatihan semacam ini sangat diperlukan bagi WBP Lapas Wirogunan sebagai kegiatan selama menjalani masa tahanan untuk menghindari kebosanan dan gejolak lain, dan tentunya berguna sebagai bekal keterampilan jika sudah bebas nanti,”



FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Peringati Hari Batik Dunia, Eastparc Jogja Hadirkan Pagelaran Busana



Sebuah pagelaran busana serba batik digelar Eastparc Hotel Jogja dalam rangka memperingati Hari Batik Dunia. Mengusung tema Tradition Revolution, setidaknya 20 baju batik keluaran Paradise Batik ditampilkan pada pagelaran tersebut.
“Adanya pagelaran busana ini kami ingin mengajak masyarakat Jogja dan sekitarnya untuk lebih mengenal dan mencintai batik sebagai kekayaan budaya bangsa. Saat ini industri batik Indonesia cukup maju pesat dengan talenta-talenta designer batik dari negeri sendiri. Hal seperti inilah yang perlu kita apresiasi bersama,” papar Assistant Public Relation Manager Eastparc Hotel Jogja, Febrityas Putri Dwilarasati.
Wanita cantik yang akrab disapa Laras tersebut mengungkapkan, tidak banyak orang yang tahu bahwa dibalik setiap motif batik, terdapat makna yang tersirat didalamnya. Tren sedang berjalan sesuai pencarian identitas dan akar budaya secara serentak di seluruh dunia. Proses ini tidak selalu berjalan dengan evolusi namun dengan revolusi sehingga akhirnya menjadi tema pagelaran busana tersebut. Lebih lanjut Laras menjelaskan, batik yang berevolusi seiring perubahan jaman sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
“Tema ini tersirat pada perubahan-perubahan motif batik yang ditampilkan mengarah ke motif kontemporer namun masih melekat dengan nilai-nilai tradisi. Batik ditulis pada bahan sutera twis,” jelas dia.
Sementara itu Wahyudi Eko Sutoro selaku General Manager Eastparc Hotel Jogja menambahkan, adanya Pagelaran Busana Batik di hotel yang dipimpinnya diharapkan dapat menjadi semangat baru bagi industri batik.
“Di sisi lain, masyarakat secara umum bisa mendapatkan edukasi mengenai batik,” tandas Wahyudi.



FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Lima Duta Besar Siap Hadiri Pekan Batik Nusantara 2016



Lima duta besar dari sejumlah negara direncanakan hadir dalam pembukaan Pekan Batik Nusantara (PBN), Selasa (4/9) di Kawasan Budaya Jetayu Kota Pekalongan. Kelima dubes yang menyatakan siap hadir yakni dari Afrika Selatan, Filipina, Singapura, Korea Selatan dan Malaysia. Kelimanya juga akan mengikuti kegiatan membatik bersama sejumlah pejabat baik dari pemerintah pusat maupun provinsi.
“Yang sudah konfirmasi adalah Afrika Selatan, Korea Selatan, Malaysia, Filipina dan Singapura. Mereka akan hadir dalam pembukaan dan sekaligus mengikuti kegiatan membatik bersama,” tutur Ketua Panitia PBN 2016, Slamet Prihantono dalam kegiatan Ngopi Bareng Walikota Pekalongan di Rumah Dinas.
Selain kehadiran duta besar, PBN rencananya juga akan dibuka langsung oleh Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani. Dikatakan Totok, sapaan akrab Pj Sekda, saat ini pihaknya masih menunggu kepastian kehadiran Puan. Menurut informasi terakhir, surat dari Pemkot Pekalongan sudah diturunkan ke putri Megawati tersebut. Namun yang pasti, pembukaan PBN juga akan dihadiri oleh Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf.
Usai pembukaan dan membatik bersama, malam harinya akan digelar gala dinner dan fashion show mahakarya batik Pekalongan. Sebanyak 72 kain batik rancangan sembilan orang desainer dari Kota Pekalongan seperti dari Zikin Desain, Qonita, Tobal Batik dan dari Desainer Mode Kota Pekalongan (Desmoka). Juga dijadwalkan hadir dalam gala dinner dan fashion show, penyanyi eks vokal grup Warna, Nina Tamam.
“Dalam fashion show tersebut akan dibuktikan, dan tunjukkan bagaimana desainer Kota Pekalongan sudah bisa bersaing dan dapat dianggap sejajar di khasanah fashion batik di Indonesia,” kata Totok.
Kemudian juga akan digelar sejumlah seminar mulai seminar dan talkshow mulai dari talkshow batik dan seminar bekerjasama dengan BI yang mengambil tema smartbisnis untuk menuju smartcity. Dalam seminar itu, juga akan dilakukan launching lapak online bagi pengusaha batik di Kota Pekalongan, dan aplikasi android website Pemkot Pekalongan.
Walikota Pekalongan, HA Alf Arslan Djunaid menambahkan, PBN 2016 diharapkannya tidak sekedar menjadi acara seremonial belaka, namun akan ditindakanjuti dengan langkah-langkah pembinaan terhadap UKM, terutama UKM batik di Kota Pekalongan. “Namun kami juga akan kenalkan sejumlah produk unggulan lain di Kota Pekalongan seperti usaha konveksi, tekstil hingga ATBM yang dulu sempat berjaya,” katanya.
Karena sejauh ini, sambung Alex, pembinaan batik yang ingin dijadikan satu daya ungkit besar baik di bidang ekonomi maupun pariwisata dirasa belum maksimal. Untuk itu, mulai tahun depan dengan adanya SOTK baru dan pariwisata akan diurus tersendiri. Dia bertekad untuk membangun kembali batik sebagai daya tarik wisata Kota Pekalongan. Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Disperindagkop dan UMKM Drs Supriono MM, Kepala Diskominfo Sri Budi Santoso, Kepala Dishubparbud, Doyo Budi Wibowo, Perwakilan dari BI Tegal dan sejumlah panitia PBN 2016.




FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Sambutan Pembukaan PBN 2016, Ganjar Siap Pasarkan Batik Pekalongan



Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta Pemerintah Kota Pekalongan mengembangkan even batik yang lebih bagus, sebagai upaya ‘menduniakan’ kerajinan batik. “Kami minta Pemkot Pekalongan harus ada even yang dibuat dengan tema batik menjadi corak, dan batik menjadi lagu ataupun makanan,” kata Ganjar usai mengikuti acara Pembukaan Pekan batik Nusantara (PBN) 2016 di kawasan budaya Jetayu, Kota Pekalongan.
Untuk ‘menduniakan batik, kata Ganjar, maka pemkot harus bisa melakukan ‘branding’ batik yang lebih bagus agar masyarakat bisa belajar membatik, membeli batik, museum batik, dan pengetahuan batik Pekalongan. “Selain itu, pemkot harus melakukan even batik. Jika perlu Kota Pekalongan harus ada even tentang batik setiap minggu,” katanya.
Ia mengatakan, pemkot bisa menggagas kegiatan batik ini dengan berbagai cara, seperti even batik anak-anak, remaja, dan pewarnaan batik. “Dengan adanya even batik setiap minggunya. Maka konsumen atau orang akan datang ke Kota Pekalongan,” katanya.
Menurut dia, dengan dikenalnya Kota Pekalongan sebagai “Kota Batik” di tingkat nasional, maka seharusnya pemkot tidak sekadar pamer produk batik melainkan mampu mengembangkan kerajinan batik yang lebih bagus. Ganjar bahkan mengaku siap menjadi ‘marketer’ atau pemasar produk batik. “Saya siap menjadi promoter dan marketer batik,” ungkapnya.
Sementara, Walikota Pekalongan HA Alf Arslan Djunaid mengatakan, untuk ke-8 kalinya Kota Pekalongan menggelar Pekan Batik Nusantara yang diharapkan menjadi daya ungkit ekonomi kreatif bagi masyarakatnya.
“Pekalongan yang ke delapan kalinya menggelar Pekan Batik Nusantara. Kegiatan ini diharapkan menjadi daya ungkit ekonomi kreatif yang didukung segenap kementerian dan harapannya warga masyarakat bisa menampilkan hasil kreasi produk khususnya di bidang batik, kerajinan, seni rakyat, dan sebagainya,” katanya.
Ia mengatakan pada pameran kali ini ada 160 stand batik dan 90 stand kuliner selama enam hari berturut-turut, mulai Selasa (4/10) sampai dengan Minggu (9/10).
“Kami ingin ini bukan sekadar hura-hura, kami ingin batik bisa diperhitungkan, sampai kemudian market bisa menjangkau level nasional dan internasional. Sehingga diharapkan UMKM di Pekalongan terus berkembang,” ungkapnya.
Usai acara pembukaan, seluruh pejabat yang hadir diajak untuk membatik bersama di halaman Museum Batik, yang berlokasi tak jauh dari tempat digelarnya ucara pembukaan. Kemudian dilanjutkan dengan meninjau stan peserta Pameran Batik PBN 2016.
Acara PBN 2016 secara resmi dibuka Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mewakili Presiden RI Joko Widodo. Hadir juga pada acara tersebut Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono. Selain itu juga tampak tamu-tamu sepsial dari Asean Women Circle dan lain-lain.



FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Menteri Koperasi: Pekan Batik Nusantara Memperkokoh NKRI



Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga membuka secara resmi Pekan Batik Nusantara (PBN) 2016 yang digelar Pemkot Pekalongan di kawasan budaya Jetayu. Dalam sambutannya, Menkop mengapresiasi perhelatan PBN, karena selain memberikan tempat bagi para pengrajin batik untuk memperkenalkan produknya, PBN juga ikut berperan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kalau pameran-pameran semacam PBN semakin sering digelar, menurut dia, maka semakin bagus.
“Ini bukan berlebihan, diplomasi batik luar biasa untuk memperkokoh NKRI. Siapa cinta NKRI dia pakai batik, meski batik ini berakar dari budaya Jawa tapi sekarang semangat nasionalisme dalam batik luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke semua pakai batik dan acara seperti ini memang perlu bukan saja di Pekalongan tapi di tempat-tempat lain,” katanya.
Adanya PBN, menurut Menkop juga dapat meningkatkan penghasilan para pelaku UKM dari seluruh Indonesia. Batik yang memang sudah dikenal sebagai warisan budaya asli Indonesia, akan lebih dikenal lagi dan dicintai masyarakat. Dampaknya, pemasaran produk batik akan meningkat. Maka bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan para pelaku UKM utamanya di bidang batik. “Saya juga berharap agar batik terus digaungkan di seluruh daerah Indonesia sebagai warisan budaya asli Indonesia untuk dunia,”.
Pada kesempatan yang sama, Puspayoga juga menyerahkan bantuan untuk sejumlah program strategis yakni Nomor Induk Koperasi (NIK) diantaranya kepada Koperasi Karyawan Taspen, KSP Tinggal Landas Kencana Pekalongan Utara, Sertifikat Hak Cipta kepada tiga UKM seni rupa dan seni motif, serta Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI, BNI, dan Bank Mandiri kepada enam penerima. Sementara, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan dirinya siap menjadi marketing untuk mempromosikan batik. Dia bahkan rela diibaratkan menjadi ‘manekin’ yang mengenakan kain-kain batik produksi para pengrajin batik di Jawa Tengah.
“Saya mau jadi marketer untuk mereka. Misalnya saya berkunjung ke suatu tempat, kemudian berhenti, dan membeli batik selanjutnya batik itu saya pakai. Nanti kalau media meliput, memberitakan, akhirnya banyak orang pada menanyakan ke saya, itu batik dari siapa, buatan mana. Saat itulah sebenarnya promosi terjadi yang selanjutnya bisa berlanjut ke transaksi batik,”.
Ganjar menambahkan, dirinya ingin pengrajin dan pengusaha batik tidak hanya menjual secara manual akan tetapi bisa menggunakan media sosial. “Sekarang zamannya sudah serba online. Jadi pengrajin maupun pengusaha batik harus bisa mengikuti tren yang ada dan mengembangkan berbagai cara pemasarannya,”.
Pembukaan PBN 2016 di Kota Pekalongan kemarin dihadiri sejumlah tokoh penting. Selain dihadiri Menkop dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, hadir pula Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI (Bekraf) Triawan Munaf, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Wakil Ketua Kadin Pusat Zainal Bintang, Danrem 071/Wijaya Kusuma Kolonel Suhardi. Hadir pula sejumlah duta besar negara-negara sahabat, diantaranya duta besar Filipina, Singapura, Afrika Selatan, Malaysia, dan Korea. Para tamu undangan ini didampingi jajaran Pemkot Pekalongan dan FKPD Kota Pekalongan.
Pembukaan PBN ditandai dengan kegiatan mewarnai kain batik motif Buketan yang merupakan salah satu motif asli Kota Pekalongan, oleh Menkop UKM, Kepala Bekraf, Gubernur Jateng, Kapolda Jateng, Walikota, dan sejumlah tokoh lainnya. Acara diisi pula dengan penyerahan secara simbolis pinjaman KUR dari perbankan kepada kalangan UKM. Usai pembukaan, Menkop dan UKM beserta tamu undangan dan pejabat lainnya menggambar batik bersama-sama di depan Museum Batik. Para tamu undangan selanjutnya meninjau stan-stan PBN di dalam Gor Jetayu.
PBN 2016 di Kota Pekalongan ini berlangsung mulai 4 hingga 9 Oktober mendatang. Ada beragam rangkaian kegiatan serta pameran dalam PBN ini. Antara lain pameran batik di Gor Jetayu yang diikuti sekitar 160 stan, serta festival kuliner nusantara. Ada pula beragam hiburan mulai dari karnaval hingga pentas seni tradisional dan kontemporer, ada fashion show batik, berbagai seminar, talkshow, karnaval kostum batik, sampai teatrikal ‘batik on the street’.



FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Batik dari Tanaman Mangrove Ini Harganya Rp5 Juta



Sekilas batik yang dipajang oleh Lulut Sri Yuliani di salah satu stand pameran Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna, Senin 3 Oktober 2016 layaknya batik pada umumnya. Kain itu terasa halus, dengan warna kain yang cukup mengkilap. Namun, yang membedakannya adalah bahan pembuat kain batik itu. 
Lulut mengatakan, kain batik itu terbuat dari tanaman mangrove. Lulut mengungkapkan, ide untuk membuat batik dari mangrove mulai tercetus sejak 10 tahun lalu. Tahun 2007 terjadi pembalakan liar hutan mangrove di Surabaya. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal itu, Lulut melakukan penanaman mangrove di kawasan pantai Surabaya.
“Nah, untuk memotivasi itu, tanaman mangrove itu juga kita manfaatkan untuk sejumlah kerajinan, salah satunya adalah batik mangrove ini,”.
Hasilnya pun memuaskan. Batik itu pun mendapatkan tempat di masyarakat, dan hati pecinta batik. Terbukti, saat ini batik tersebut sudah dikirimkan ke berbagai daerah yang ada di Indonesia, dan luar negeri.
“Bahkan, harganya juga bisa mencapai Rp5 juta setiap lembarnya,” 
Bahkan, saat ini omset dari penjualan batik itu juga terbilang cukup menggiurkan. Sebab, setiap bulannya Lulut bisa mendapatkan omset sebesar Rp100 juta.
“Mengenai keuntungan belum tentu, itu tergantung hati. Karena kita juga harus membagi keuntungan itu untuk konservasi mangrove lagi, serta pemberdayaan masyarakat juga,” kata Lulut.
Selain itu, berkat pengolahan mangrove menjadi batik itulah, saat ini Lulut juga sudah banyak diundang di berbagai negara. Tujuannya, ia diminta untuk menyampaikan teknik pengolahan mangrove yang ramah lingkungan.
“Bahkan, kita juga sudah kerjasama dengan 14 kementerian dari berbagai negara untuk pengolahan mangrove, dan tidak hanya batik saja, melainkan berbagai pengolahan lainnya. Seperti pewarna, makanan, minuman, serta kerajinan tangan,”


FB : Griya Batik Mas, Instagram : tokobatikmas, kainbatikmas, batiktulismas

Be Someone Who Seeks Comfort And Style