Monday, April 28, 2014

Macam-macam Motif Batik Larangan



Dalam masyarakat kraton jawa,membatik dianggap sebagai kegiatan pengabdian kepada raja.

Batik Kraton
Batik kraton adalah jenis batik yang dikembangkan dan digunakan di lingkungan keraton. Motif dan penggunaannya diatur dengan norma-norma kraton.
Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus,batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya.Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun,permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.
Hal ini disebabkan pada awalnya motif-motif tertendu dilarang dikenakan oleh masyarakat umum, kecuali oleh kerabat kraton. 
Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785.Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha,Semen Gedhe Sawat Lar,Udan Liris,Rujak Senthe,serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.


Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta,segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik,diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan Keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya,termasuk pula khazanah batik.

Kalaupun batik di Keraton Surakarta mengalami beragam inovasi,namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Keraton Yogyakarta.Ketika tahun 1813,muncul Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta akibat persengketaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles,perpecahan itu ternyata tidak melahirkan perbedaan mencolok pada perkembangan motif batik tlatah tersebut.

Menurut KRAy SM Anglingkusumo,menantu KGPAA Paku Alam VIII,motif-motif larangan tersebut diizinkan memasuki tlatah Keraton Puro Pakualaman,Kasultanan Surakarta maupun Mangkunegaran.Para raja dan kerabat ketiga kraton tersebut berhak mengenakan batik parang rusak barong sebab sama-sama masih keturunan Panembahan Senopati.

Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih.Pola geometri Keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas,besar-besar,dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik.Sementara itu,batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Keraton KasultananYogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta.

Jika warna putih menjadi ciri khas batik Kasultanan Yogyakarta,maka warna putih kecoklatan atau krem menjadi ciri khas batik Keraton Surakarta.Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Keraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X.Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman,hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya.

Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman,yakni Pola Candi Baruna yang tekenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo.Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal,antara lain:Ceplok Blah Kedaton,Kawung,Tambal Nitik,Parang Barong Bintang Leider,dan sebagainya.

Begitulah.Batik painting pada awal kelahirannya di lingkungan kraton dibuat dengan penuh perhitungan makna filosofi yang dalam.Kini,batik telah meruyak ke luar wilayah benteng istana menjadi produk industri busana yang dibuat secara massal melalui teknik printing atau melalui proses lainnya.Bahkan diperebutkan sejumlah negara sebagai produk budaya miliknya.

Dalam masyarakat kraton jawa,membatik dianggap sebagai kegiatan pengabdian kepada raja.
Beberapa motif kraton antara lain sebagai berikut:
a. Sawat
b. Parang rusak
c. Cemukiran
d. Sembagen Huk
e. Kawung
f. Semen
g. Alas-alasan
h. Sidomukti–sidoluhur–sidoasih-sidomulya
i. Truntum
j. Pisan bali
k. Madubranta
Batik Larangan menurut Fungsi dan Filosofinya
l. Ciptoning
m. Segaran Candi Baruna

 n. Abimanyu
o. Sekar Jagad
p. Grompol atau Grombol
q. Tambal
r. Udan Riris
s. Rujak Senthe


Beberapa contoh motif kraton antara lain sebagai berikut:
Batik Motif Sawat
Sawat yaitu motif berbentuk sayap-sayap besar menggambarkan burung garuda sebagai kendaraan Dewa Wisnu yang melambangkan kekuasaan atau raja.
Motif Batik Sawat 

Motif Sawat Manak
Parang rusak
Motif parang rusak melambangkan menangkal kebatilan,kekuatan,kecepatan,keperkasaan,pertumbuhan,dan kesucian.
PARANG: simbol ketajaman berpikir, keberanian, kepemimpinan

Motif parang termasuk ragam hias larangan, artinya hanya raja dan kerabatya diijinkan memakai. Besar kecilnya motif parang juga menyimbolkan status sosial pemakainya di dalam lingkungan kerajaan. Parang Barong, merupakan parang paling besar, diatas 20 cm ukuran besarnya garis putih

Misal, para bupati hanya diperkenankan memakai parang ukuran 4 cm. Sedangkan raja, permaisuri, putra mahkota bebas memakai ukuran berapa pun. Para putra putri permaisuri diijinkan memakai ukuran 10 cm, sedangkan para selir raja dibawah ukuran tersebut (8 cm). Motif  ini sangat baik dikenakan ksatria karena menyimbolkan  usahanya dalam mempertahankan negara dari ancaman musuh. Parang pantang dipakai mempelai ketika prosesi panggih. Konon, rumah tangga mereka bakalan perang terus.

Untuk gaya putri Jogja : arah parang dari kiri atas ke kanan bawah
Untuk laki laki jogja : arah parang dari kanan atas ke kiri bawah
Untuk gaya surakarta, laki laki dan putri sama arahnya, yaitu dari kanan atas ke kiri bawah

 Pemakaian batik motif parang gaya Surakarta
Motif Parang Rusak.Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati,pendiri Keraton Mataram.Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram,Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng(tebing)berbaris.Akhirnya,ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang.Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.
motif Parang Rusak Barong Merupakan induk dari semua pola parang

Pola Parang Rusak Barong,diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusum a yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya,dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.Kata barong berarti sesuatu yang besar dan hal ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain.Merupakan induk dari semua pola parang,pola barong dulu hanya boleh dikenakan oleh seorang raja.Mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.

Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti:
Parang Rusak Barong,Parang Kusuma,Parang Pamor,Parang Klithik,Parang Slobog dan Parang Lereng Sobrah. 


Parang Rusak BarongKarena penciptanya pendiri Keraton Mataram,maka oleh kerajaan,motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa.Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok“batik larangan”.


Bila dilihat secara mendalam,garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam,dalam hal ini yang dimaksudkan adalah raja.Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan,kewibawaan,kebesaran,dan gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.

Batik Motif Parangkusumo
Motif Batik Parangkusumo
Batik Parangkusumo berasal dari kata“kusumo”yang artinya kembang atau bunga yang dikaitkan dengan kembanging ratu.Sesuai dengan namanya,batik Parangkusumo hanya dipakai oleh kalangan keturunan raja secara turun-temurun bila berada didalam keraton.


Motif batik Parangkusumo terdiri dari unsur motif api dan motif mlinjon.Motif-motifnya tersusun menurut garis diagonal,motif api atau motif parang posisinya bertolak belakang dengan motif mlinjon yang berbentuk segi empat belah ketupat.Di tengahtengah motif api terdapat dua motif bunga kecil yang bertajuk tiga dan saling bertolak belakang.
Motif batik parang kusuma biasanya digunakan untuk busana pengantin Kasatrian Ageng.

Pengertian bunga sama dengan kusuma yang mempunyai makna generasi muda bunga harapan,Jika dirasakan dengan arti perlambangnya memang sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai busana putra-putri Sultan yang semula digunakan untuk malem selikuran,sekarang menjadi busana pengantin.Batik ini berkembang pada masa Penembahan Senopati Mataram pada abad XVI.

Batik Parang Pamor

 
Motif Batik Parang Pamor berasal dari kata“pamor”berarti memancarkan cahaya atau bersinar. Batik Parang Pamor termasuk batik parang awal,artinya termasuk dalam yasan Mataram Kuthagedhe pada abad XVI.
Dalam istilah keris pamor adalah hasil campuran bahan pembuat bilahan keris yang menjadi desain yang memancarkan cahaya keindahan serta mendatangkan“daya perbawa”atau wibawa.Makna batik parang pamor bagi si pemakai diharapkan akan mendatangkan kewibawaan.

Parang Klitik,


motif ini merupakan pola parang dengan stilasi motif yang lebih halus.Ukurannya pun lebih kecil,dan mengandung citra feminin.Parang jenis ini melambangkan kelemah-lembutan,perilaku halus dan bijaksana. Motif batik yang menyimbolkan perilaku halus dan bijaksana.Dulu motif batik ini hanya dikenakan oleh para putri raja.


Parang Slobog,


motif parang ini menyimbolkan keteguhan,ketelitian,dan kesabaran,dan biasa digunakan dalam upacara pelantikan.Motif ini mengandung makna harapan agar pemimpin yang dilantik itu diilhami petunjuk dan kebijaksanaan dalam mengemban amanah.

Bisa juga dikenakan dalam upacara kematian karena mengandung doa agar derajatnya diangkat ke tempat yang lebih terhormat. MOTIF SLOBOG artinya agar longgar. bagusnya untuk melayat. jangan dipakai untuk menghadiri pernikahan, dianggap memujikan agar cepat menuju kematian


Parang Curigo 


adalah salah satu motif yang termasuk pola geometrik-parang. Ciri khas dari pola ini adalah ragam hias yang disusun sejajar dengan sudut 45 derajat.Kemudian selalu ada ragam hias berbentuk belah ketupat yang juga sejajar dengan ragam hias utama pola parang,ragam hias ini disebut sebagai mlinjon.

Batik Motif Cemukiran
Motif cemukiran berbentuk motif lotus yang melambangkan kekuasaan. Motif ini sejajar lurus dan disusun secara diagonal yang melambangkan kesuburan.

Motif ini bisanya dipakai untuk jenis ikat kepala atau disebut udheng/dhestar atau lebih dikenal dengan sebutan Blangkon. Corak ini berbentuk garis tepi/pinggiran bathik dengan bidang polos yang disebut modang. Gambar yang menghiasi corak bathik ini adalah lidah api yang mengandung makna kesaktian untuk meredam angkara, hal ini mengandung ajaran bahwa sebelum bisa mengalahkan musuh dari luar harus bisa mengalahkan musuh yang dating dari diri sendiri (nafsu).
Motif ini berkembang pada masa PB. III dan hanya boleh dipergunakan Pepatihdalem dan Sentanadalem.


Motif Sembagen Huk
Motif sembagen huk yang berbentuk mirip burung phoenik yang melambangkan kelincahan,kemegahan,dan keperkasaan. 

motif ini hanya digunakan oleh para penguasa, putera mahkota dan permaisuri/istri raja.

Motif ini merupakan motif larangan, sebelum pemerintahan Sultan HB IX (1940-88), hanya boleh dipakai putra mahkota dan Raja. 

Simbol bahwa sbg pemimpin harus bertanggung jawab penuh pd rakyat.  diibaratkan seperti Burung Hantu yang tajam penglihatannya, meskipun malam menyelimuti kerajaan, seorang pemimpin tetap waspada mengayomi rakyatnya. Huk merupakan kata lain dari burung hantu
 

Motif Batik Kawung
Motif kawung berbentuk motif flora seperti biji aren yang melambangkan manusia dan kesuburan alam.

adalah motif yang digunakan keluarga jauh bergelar raden mas.
Motif Batik Kawung Pada intinya motif kawung diartikan sebagai bentuk bulat lonjong atau elips.

Motif Kawung berupa empat lingkaran atau elips mengelilingi lingkaran kecil sebagai pusat dengan susunan memanjang menurut garis diagonal miring ke kiri atau ke kanan berselang-seling. Melambangkan 4 arah angin atau sumber tenaga yang mengelilingi yang berporos pada pusat kekuatan, yaitu : timur (matahari terbit: lambang sumber kehidupan), utara (gunung: lambang tempat tinggal para dewa, tempat roh/kematian), barat (matahari terbenam : turunnya keberuntungan)  selatan (zenit:puncak segalanya).

Dalam hal ini raja sebagai pusat yang dikelilingi rakyatnya. Kerajaan merupakan pusat ilmu, seni budaya, agama, pemerintahan, dan perekonomian. Rakyat harus patuh pada pusat, namun raja juga senantiasa melindungi rakyatnya.

Kawung juga melambangkan kesederhanaan dari seorang raja yang senantiasa mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Motif ini juga berarti sebagai symbol keadilan dan kesejahteraan.

Ada yang beranggapan bahwa kawung merupakan salah satu jenis pohon palem atau aren dengan buah yang berbentuk bundar lonjong, berwarna putih agak jernih yang disebut “kolang-kaling”. Pendapat lain mengatakan bahwa kawung merupakan bentuk stirilisasi teratai (Lotus) yang bermakna kesakralan dan kesucian. Pada zaman klasik (pengaruh Hindu Budha), lotus merupakan simbol dewa-dewa. Oleh karena itu motif ini diartikan sebagai segal sesuatu yang murni, suci, kembali ke putih.


Batik Motif Semen
Moti semen berbentuk motif gunung yang melambangkan pertumbuhan,kesuburan,sumber segala keberadaan,dan pusat kekuasaan.


Motif semen yang bersayap garuda ganda maupun tunggal, khusus untuk pada anggota keluarga yang bergelar pangeran keturunan penguasa.

“Semen Romo” adalah nama sebuah motif Batik kuno, dikatakan kuno karena sejak tahun 1940-an pun motif ini sudah dikenal. Kata “semen” dalam bahasa Jawa mempunyai arti “semi” atau “berseminya tanaman”. Karena itu pada motif ini terdapat banyak unsur tanaman yang mulai bersemi atau tumbuh.
 
Semua motif Batik Kuno atau Klasik dipercayai ditulis dengan kalam canting dan tinta malam diiringi doa dan puasa atau berserah diri. Agar semua perlambang yang diterjemahkan pada selembar kain yang dibatik mempunyai makna dan mudah-mudahan diperkenankan oleh Yang Maha Kuasa.

Oleh karena itu makna dari Semen Romo adalah sumber kehidupan manusia.‘Semen Romo’ adalah perlambang bertemunya sperma laki2 dengan wanita, sehingga terlahirlah kita semua. Dapat pula diartikan sebagai perlambang kesuburan.

“Semen Romo” juga mengandung ajaran sifat-sifat utama yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin, ini diterjemahkan dalam  9 ornamen utama, selain tanaman yang bersemi, dalam pembentuk motif semen romo.

Unsur penyusun motif semen umumnya terdapat ornamen yang melambangkan atau mengajarkan hal-hal keutamaan dan kebaikan-kebaikan dalam filosofi jawa kuno terkenal dengan ajaran Hastha Brata artinya ajaran keutamaan melalui delapan jalan, yaitu:
  1. Ornamen meru, melambangkan tanah atau bumi atau gunung tempat para dewa, melambangkan keadilan; 
  2. Ornamen lidah api, melambangkan api (agni) atau dewa api, lambang kesaktian untuk membela kebenaran dan menghukum yang bersalah; 
  3. Ornamen Baito atau kapal laut, barang yang bergerak di air dapat dianggap sebagai lambang air atau banyu. Pada motif-motif lain air ini dilambangkan dengan binatang-binatang yang hidup di air, seperti katak, ular, siput dan sebagainya, melambangkan sifat pemaaf, melambangkan sifat pemaaf;
  4. Ornamen burung, lambang dunia atas atau udara. Kadang-kadang digambarkan dengan binatang lain yang terbang misalnya kupu-kupu, melambangkan penghargaan / anugrah
  5. Ornamen garuda atau rajawali, lambang matahari dan tata surya, melambangkan kebijakan dan keteguhan hati.
  6. Ornamen pusaka atau rembulan, pusaka biasanya digambarkan dengan tombak, mempunyai makna semacan ndaru atau wahyu, yaitu semacam cahaya gemerlapan, lambang kegembiraan dan ketenangan.
  7. Ornamen dampar atau tahta atau singgasana, lambang kekuasaan yang adil dan mengayomi rakyat. Biasa dilambangkan dengan mahkota yang digubah seperti garuda.
  8. Ornamen binatang, binatang yang hidup di darat, melambangkan dunia tengah atau alam semesta, dalam ajaran hindu binatang biasa dianggap jelmaan dewa wisnu. Melambangkan kedudukan tinggi yang andhap asor atau rendah hati.
  9. Pohon hayat atau bumi juga melambangkan dunia tengah melambangkan dharma.Pemakaian kain batik motif semen biasanya sebagai pakaian wanita.

Motif Batik Alas-alasan
MOTIF ALAS-ALASAN untuk ritual  upacara-upacara agung, pengantin agung, dan tari Bedhaya.
 
Alas-alasan  berarti  hutan,  karena  itulah  segala  sesuatunya  (hewan dan  tumbuh-tumbuhan)  ada dalam  motif  ini  seperti  hewan-hewan  dan tumbuh-tumbuhan. Motif Alas-alasan sangat dominan dengan ornamen hewannya  seperti stilasi laut, awan, dan hewan-hewan

Kain batik tulis alus dengan motif Alas-alasan ditampilkan dalam komposisi yang terkesan ramai dengan gaya bebas namun masih mengacu ke unsur alam. Bentuk-bentuk stilasi  alam masih  tampak  jelas dalam  bentuk  yang  sebenarnya,  seperti jago dengan ayam betina, kupu dengan kumbang, harimau dengan kuda, dan  sebagainya. Motif Alas-alasan menekankan pada objek binatang,  sehinggga  stilasi bentuk  yang  ditampilkan  banyak mengarah  ke  unsur  binatang  dengan  penempatan  yang  ditata rapi  ke  arah  vertikal  maupun horinsontal dengan jarak yang sama. Untuk memberi kesan tidak monoton dalam penempatan, maka peran  tumbuh-tumbuhan sangat dibutuhkan sebagai pengisi ruang kosong dan sebagai penguhubung pada tiap-tiap bentuk  binatang.

Selain itu  Dari  segi  visual   motif  kain batik alas-alasan mempunyai  keindahan  yang  luar  biasa karena memasukkan  unsur-unsur alam  dengan  objek  hutan  seisinya  yang  dibuat  secara  spontan seakan mengingatkan  kita  pada  lukisan  primitif  dengan  segala  kemegahan. Motif Alas-alasan menggambarkan  keadaan  hutan  atau  alam  seisinya  yang  melambangkan keadaan  Alam  yang  baik dan  yang  buruk. Namun Alas-alasan berarti hewan yang dianggap sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran.


Bila diperhatikan secara teliti dan mendalam maka pada motif Alas-alasan  tampak adanya hewan yang merusak  tanaman atau memangsa hewan  lain  seperti  serangga  dan  macan,  dan  hewan  yang  tidak merusak tanaman  seperti  kupu-kupu,  ular,  dan  sebagainya. Umumnya motif batik alas-alasan bermotif burung, kura-kura, kelabang, katak, serangga, kepiting, merak, dan sebagainya.  Berbagai sifat  hewan tersebut mengartikan adanya kehidupan di alam  ini. Manusia yang hidup untuk menuju kemakmuran dan ketenteraman seringkali mendapat berbagai halangan dan rintangan. Jenis  batik  ini sering  digunakan  oleh Raja  untuk  upacara-upacara agung, pengantin agung, dan tari Bedhaya.

Sidomukti–sidoluhur–sidoasih-sidomulya
Motif ini melambangkan kekasih keraton.
Motif Batik Sidomukti
Berasal dari kata sido yang berarti jadi, menjadi atau terus menerus. 

Mukti berarti bahagia, sejahtera, berkecukupan. Motif ini melambangkan harapan suatu kehidupan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan, dan kesejahteraan yang kekal untuk pengantin tanpa melupakan Tuhan yang telah memberi kehidupan.
 

Motif Batik Sido Luhur 
Motif Sida Luhur (dibaca Sido Luhur) bermakna harapan untuk mencapai kedudukan yang tinggi, dan dapat menjadi panutan masyarakat.


Makna : Mengandung makna keluhuran. Bagi orang Jawa, hidup memang untuk mencari keluhuran materi dan non materi. Keluhuran materi artinya bisa tercukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan, pangkat, derajat, maupun profesinya. Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran non materi. Orang Jawa sangat berharap hidupnya kelak dapat mencapai hidup yang penuh dengan nilai keluhuran.

Motif Batik Sido Asih 

filosofinya : agar mendapatkan cinta kasih, welas asih. Bagus dipakai ketika prosesi pernikahan bagi kedua mempelai Asih artinya kasih sayang. Motif ini bermakna agar hidup rumah tangga kedua pengantin selalu dipenuhi rasa kasih sayang sehingga mereka selalu merasa bahagia dalam suka maupun duka.

Motif Batik Sido Mulya  

Mulya berarti mulia. Motif ini menyimbolkan harapan agar keluarga yang dibina akan terus menerus mendapat kemuliaan meskipun mendapat suatu kesulitan. 

Namun dengan doa dan usaha yang tekun serta sabar maka kesulitan tersebut akan teratasi. Mereka pun tetap diberi anugerah kemuliaan.
Makna : Bahagia, rejeki melimpah, hidup dalam kemuliaan.


 Motif Batik Truntum
Nama motif truntum berasal dari bahasa jawa yaitu tumaruntum yang memiliki arti salim membimbing.

Motif Truntum yang diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) bermakna cinta yang tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini sebagai symbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum). Karena maknanya, kain bermotif truntum biasa dipakai oleh orang tua pengantin pada hari penikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk “menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru.

Motif Batik Pisan bali
Motif pisan bali melambangkan harapan,do’a,dan keselamatan

Beberapa bilang namanya ‘Pisang Bali’, tapi beberapa literatur lama menyebut motif ini sebagai motif ‘Pisan Bali’. Motif ini banyak ditemukan di pahatan batu-batu di candi-candi di Jawa pada abad ke 9 (sembilan). Motif ini melambangkan kehormatan dan status pemakainya. Motif ini juga banyak dibuat di Surakarta.

Madubranta

 
Nama motif madubranta berasal dari bahasa jawa yaitu madu dan branta.Madu artinya manis sedangkan branta artinya cinta.motif madubranta melambangkan rasa cinta kasing dan sayang.



Motif  Batik CIPTONING
Ornamen hias berupa sisik/gringsing, wayang, parang dan gurdo.  
Simbol kebijaksanaan.

 

Pemakainya   pada zaman kerajaan, biasanya para pejabat pemerintahan dengan harapan agar bijaksana dlm mengatur negara.

Batik ini berasal dari daerah Yogyakarta, namun daerah lainnya banyak yang memproduksi dengan pengembangan motif dan warnanya. Motif ciptoning termasuk dalam pola ceplok (bentuk geometris yang diulang dan saling berhubungan).

 
Motif ini menceritakan Arjuna yang mesu diri, manembah, dan manekung sehingga berhasil mengalahkan segala godaan dan hawa nafsu jahat dan menjadi Begawan Ciptoning Mintaraga.

Dengan harapan yang mengenakan dapat meneladaninya. Dahulu kain motif ini dikenakan oleh para ksatria.


Batik motif ciptoning tersusun dari beberapa motif yaitu motif wayang, motif parang, motif gurda, motif burung, isen-isen, yang kesemuanya dipadukan menjadi satu kesatuan motif yang cantik dan menarik.


Dulunya kain batik motif ciptoning dimanfaatkan sebagai kain panjang pada acara resmi.

Motif SEGARAN CANDI BARUNA


Baruna merupakan dewa lautan, dewa yang mengajarkan makna hidup dan kehidupan kpd Bima dlm pencariannya mengenai hakiki hidup.

Motif ini menjadi kebanggaan raja raja di Pura Pakualaman

Batik Motif ABIMANYU
Abimanyu merupakan putra Arjuna (Pandawa). 

Ia akan mempunyai keturunan (Parikesit) yg akan menurunkan ksatria yg menjadi raja-raja Jawa. Motif ini menyiratkan harapan agar pemakainya dapat memiliki sifat sifat ksatria seperti sang Abimanyu.
 

Motif Batik Sekar Jagad
Sekar=bunga, Jagad= dunia,
Ornamen motif ini berupa aneka bunga dan tanaman yang tumbuh di seluruh dunia, tersusun di dalam bentuk-bentuk elips.
Motif Sekar Jagad mengandung makna kecantikan dan keindahan sehingga orang lain yang melihat akan terpesona. Ada pula yang beranggapan bahwa motif Sekar Jagad sebenarnya berasal dari kata “kar jagad” (Kar=peta; Jagad=dunia), sehingga motif ini juga melambangkan keragaman diseluruh dunia.

Sekar jagad melambangkan luapan kegembiraan hati serta kebahagiaan. Oleh karena itu pada berbagai kesempatan acara keluarga, sering dipakai, misal pada pertunangan, wisuda, syukuran, dll.
Pada acara ijab kabul dipakai orang tua pengantin putri. Melambangkan kegembiraan hati orang tua karena putrinya telah mendapatkan jodoh.

Grompol atau Grombol
Grompol dalam bahasa Jawa berarti berkumpul atau bersatu. Melambangkan harapan orang tua agar semua hal yang baik akan berkumpul, yaitu rejeki, kebahagiaan, kerukunan hidup, ketentraman untuk kedua keluarga pengantin. 

Selain itu, juga bermakna harapan supaya pasangan keluarga baru itu dapat berkumpul atau mengingat keluarga besarnya ke mana pun mereka pergi. Harapan yang lain agar semua sanak saudara dan para tamu akan berkumpul sehingga pesta pernikahan berjalan meriah.

Motif  Batik Tambal 
(Tambal Kanoman, Surakarta)

Konon, orang sakit yang menggunakan motif tambal sebagai selimut akan lekas sembuh. Menurut Serat Sanasunu karya R.Ng. Yasadipura II, rakyat biasa dilarang memakai motif Tambal Kanoman karena menimbulkan sesuatu yang tidak baik. Motif ini pun sebaiknya tidak dipakai pengantin karena dikhawatirkan akan mendapat kesulitan ekonomi. Seperti telah disebutkan di atas motif tambal diilhami dari pakaian pendeta yang bertambal. Pakaian itu sering dianggap sebagai pakaian orang miskin.
Tambal bermakna menambal atau memperbaiki hal-hal yang rusak. Dalam perjalanan hidupnya, manusia harus memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik, lahir maupun batin. Dahulu, kain batik bermotif tambal dipercaya bias membantu kesembuhan orang yang sakit. Caranya adalah dengan menyelimuti orang sakit tersebut dengan kain motif tambal. Kepercayaan ini muncul karena orang yang sakit dianggap ada sesuatu “yang kurang”, sehingga untuk mengobatinya perlu “ditambal”.
 Motif Batik Udan Riris
Motif Udan Riris termasuk dalam pola lereng yang terdiri dari minimal 7 motif batik yaitu lidah api setengah kawung, banji sawit, mlinjon, tritis, ada ada, untu walang, yang tersusun dalam bentuk lereng berlatar putih. Udan Riris berarti hujan rintik-rintik melambangkan kesuburan yang barokah untuk kesejahteraan lahir batin

Tambal dalam bahasa Jawa artinya menambal atau memperbaiki sesuatu menjadi lebih baik. Motif ini  merupakan perpaduan berbagai motif yang diilhami pakaian para pendeta yang terbuat dari kain bertambal.Dipercaya pakaian pendeta itu dapat melawan pengaruh-pengaruh jahat atau tolak bala.

Dahulu termasuk motif larangan yang hanya boleh dikenakan raja dan keluarganya.

Mengharapkan rejeki yang datang terus-menerus, meski tidak besar namun berlangsung secara berkesinambungan, seperti halnya hujan gerimis yang telah memberi kehidupan di bumi sehingga biji-bijian dapat bersemai dan tumbuh menjadi tanaman untuk dimakan manusia (memberi kesejahteraan/prosperity) Arti kedua, menggambarkan perasaan yang tengah berduka seperti rintik rintik air hujan.

Motif Batik Rujak Senthe
Motif RUJAK SENTHE  motif ini termasuk motif lereng karena motif ini selalu identik dengan garis-garis diagonal yang bermotif, biasanya paling tidak terdiri dari 7 motif batik, diantaranya : lidah api, setengah kawung, banji sawit, mlinjon, tritis, ada-ada, dan watu walang. 
Rujak Senthe ketujuh motif tersebut berlatar hitam 


Rujak Senthe dari kata rujak tentu langsung terfikirkan macam-macam buah-buahan yg diberi cairan gula aren yang telah diberi cabe/rawit dan terasi yang akan memberikan rasa kesegaran dan kesenangan dan juga rasa pedas bagi penikmatnya. Merupakan suatu sensasi yang bermacam-macam. 

Oleh karena itu motif rujak senthe terdiri dari beberapa motif yang tentunya memberikan rasa senang bagi pemakainya, selain juga menghadapi berbagai cobaan dalam kehidupannya.

bahwa dalam menjalani kehidupan harus disertai ketabahan dan prihatin biarpun dilanda panas dan hujan. Dalam suatu rumah tangga segala macam halangan dan rintangan itu harus bisa dihadapi dan diselesaikan bersama-sama.
Dahulu kedua motif ini termasuk motif larangan yang hanya diperkenankan dikenakan oleh keluarga kerajaan.

SEMOGA BERMANFAAT
Agar diterapkan sesuai dengan fungsi dan penciptaannya...jangan asal cocok (fashionable)

sumber : akucintanusantaraku.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

Be Someone Who Seeks Comfort And Style