Tuesday, March 4, 2014

Membatik Tulis, Jangan Lupa Ijuk

Ijuk (duk, injuk) adalah serabut hitam dan keras pelindung pangkal pelepah daun enau atau aren (Arenga pinnata). Manfaat ijuk amat banyak, sebut saja sikat, sapu, tali atau tambang, kuas, atap (rumah, kandang, gazebo), lapisan penyaring di dalam sumur resapan, hingga lapisan peresap air di bawah lapangan sepakbola. Tak hanya itu. Seutas ijuk sangat berarti pada proses membuat batik tulis. Tanpa seutas ijuk, pembatik bisa kerepotan. Mengapa?

Dalam proses membuat batik tulis, salah satu tahapan kerjanya yaitu nyanthing. Nyanthing atau mbatik, yakni menorehkan cairan malam (lilin batik) panas ke pola gambar di kain menggunakan alat bernama canthing atau canting.



Proses mbatik lebih dari satu tahap. Tahap pertama disebut nglowong atau ngrengrengi. Ini pekerjaan menorehkan malam di kerangka gambar motif utama batik. Itu sebabnya, dinamai nglowong, dari kata klowong atau ngrengrengi dari reng-rengan, yang maksudnya adalah kerangka. Pada tahap ini canting yang dipakai adalah canting klowong.

Tahap berikut, ketika pembatik mengisi ruang-ruang kosong di kerangka yang sudah diklowong, dengan titik-titik atau garis-garis halus, disebut tahap ngiseni atau mengisi dengan isen-isen (isi motif). Untuk pekerjaan ini, pembatik menggunakan canting cecek (cecek=titik), jika akan mengisi ruang dengan motif isen titik-titik. Bisa juga pembatik menggunakan canting klowong, tergantung kebutuhan desain.

Canting cecek pun beragam bentuk. Ada cecek siji (berlubang satu, untuk menghasilkan titik tunggal sekali toreh), cecek loron (berlubang dua, untuk menghasilkan titik ganda sekali toreh di kain), cecek telon (berlubang tiga), cecek papat, juga ada cecek liman.

Tahap selanjutnya, jika ada bagian-bagian dari kain batik atau motif yang akan ditutup atau diblok (untuk membiarkan berwarna putih), istilah pembatik ditembok, maka penutupan menggunakan cairan malam menggunakan canting tembokan. Untuk bidang yang cukup luas, pembatik bisa juga menggunakan kuas.

Ketiga jenis canting tersebut mempunya diameter cucuk (saluran cairan malam) berbeda. Canting dengan diameter terkecil canting cecek. Lebih besar dari cecek, yaitu canting klowong. Canting tembokan berdiameter paling besar. Diameter terbesar canting yaitu 1 mm (tembokan).


Karena kecilnya diameter cucuk canting dan tidak selamanya cairan malam stabil kekentalannya -- semakin lama dipanaskan makin kental bahkan bercampur dengan gentho (kotoran hitam yang mengendap di wajan) -- aliran malam di cucuk bisa tersumbat. Jika cucuk tersumbat maka tidak ada cairan malam panas bisa ditetes-torehkan ke kain yang sedang dibatik. Ini tentu mengganggu kelancaran kerja pembatik.

Mengatasi tersumbatnya aliran malam di cucuk, bisa dengan memanaskan cucuk. Namun, jika cucuk tetap tersumbat, biasanya akibat adanya kotoran, berupa gentho bercampur malam yang memadat. Tindakan yang harus dilakukan yaitu membersihkan lubang cucuk dengan cara memasukkan seutas ijuk hingga ke pangkal cucuk. Utas ijuk didorong-tarik secara pelahan beberapa kali, hingga ijuk tak terhambat, kemudian bisa dilihat di bagian dalam nyamplung (wadah penampung cairan malam pada canting).

Pada proses memasukkan utas ijuk, tekanan harus perlahan, tidak dipaksakan, Jika dipaksakan, ijuk bisa patah. Jika patahnya terjadi di dalam cucuk, ini menyulitkan pembatik untuk mengambilnya. Akibatnya, cucuk akan tersumbat ijuk secara permanen.


Mengapa digunakan ijuk? Kenapa tidak kawat atau serabut kabel? Atau serabut kulit buah kelapa (sepet)?

Kawat atau serabut kabel tidak digunakan karena merupakan penghantar panas, sehingga bisa mencederai jari saat membersihkan cucuk. Sebab, membersihkan cucuk dari sumbatan hanya bisa dilakukan ketika canting dalam keadaan panas. Panas di canting akan merambat ke kabel/kawat. Selain itu, karena diameter cucuk berbeda-beda, diperlukan utas kawat/kabel dengan diameter berbeda pula. Tentu tak mudah menyediakannya.

Serabut kulit buah kelapa jarang digunakan untuk membersihkan cucuk tersumbat karena terlalu lentur, sehingga tidak bisa mendorong kotoran di dalam cucuk.

Ijuk menjadi pilihan paling efektif untuk pembersih cucuk dari sumbatan saat membatik karena sifatnya bukan penghantar panas, tidak terlalu lentur, cenderung kaku, lebih keras dari serabut sepet , tahan panas, ukuran diameter beragam dan sesuai dengan berbagai ukuran diameter cucuk canting. Ijuk juga mudah didapat. Jika di rumah tersedia sapu ijuk, pembatik tinggal mencabut beberapa utas yang sesuai dengan diameter lubang cucuk.

Itulah sebabnya di dekat seorang pembatik tulis yang sedang membatik selalu tersedia beberapa utas ijuk. Jika ijuk sampai terlupakan, maka pekerjaan membatik pun akan terhambat. Tampak sepele, bukan? Tapi…seutas ijuk penting artinya dalam membuat batik tulis. Sampai bertemu lagi di artikel batik berikutnya.


Sumber ://batikjolaweyogya.blogspot.com 
Sumber Foto : Dedi H Purwadi

No comments:

Post a Comment

Be Someone Who Seeks Comfort And Style