Thursday, October 9, 2014

Wapres Dukung Pengrajin Batik


Wapres RI, Boediono bersama isteri didampingi Walikota Pekalongan dr HM Basyir Ahmad melihat karya batik, dalam acara PBN 2014.


Wakil Presiden (Wapres) RI, Prof DR Boediono MEc mengajak Pemprof Jateng, Pemkab maupun Pemkot untuk menjembatani para pengrajin batik tingkat UKM dengan pengusaha batik bermodal besar. Dengan begitu, akan terjadi keseimbangan. Karena pengusaha kecil akan ditarik untuk bisa menjadi usaha skala besar.
Demikian ia sampaikan saat meresmikan pembukaan Pekan Batik Nusantara (PBN) 2014 di Kawasan Budaya Jetayu, Kota Pekalongan.
Boediono mengatakan, saat ini batik sudah menjadi komoditi ekonomi, tidak hanya menjadi ikon budaya. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan perhatian khusus.
“Pemerintah, mulai dari pusat, provinsi, hingga pemerintah Kota dan kabupaten harus mencari celah-celah untuk menjembatani agar usaha batik tidak hanya didominasi oleh pemodal besar, namun juga harus memperhatikan keberlangsungan ekonomi pada pengrajin-pengrajin kecil,”ucapnya.
Pria yang akan resmi mengakhiri jabatannya sebagai Wapres pada 20 Oktober mendatang ini, juga mengingatkan kepada para generasi muda pengrajin batik, untuk bisa peka menangkap keinginan konsumen supaya produk batik tetap punya daya tarik untuk dibeli.
“Generasi muda perajin batik harus bisa menangkap konsumen dengan melakukan desain dan motif batik yang lebih menarik. Dengan kepekaan membaca keinginan konsumen, maka produk baik punya nilai tambah,” pesannya.
Tak lupa, Boediono mengingatkan kepada para pengrajin batik untuk bisa memajukan dunia perbatikan dari aspek nilai seni maupun teknologi. Dari aspek seni, pesan dia, pengrajin harus mampu meningkatkan inovasi, dan kreativitasnya agar corak dan motif batik tetap diminati konsumen.
“Sisi seni Cina, Arab, Jepang, dan Belanda bisa dipadukan dengan karya seni batik Pekalongan agar mempunya nilai tambah. Pekalongan sebagai kota batik, kami nilai mampu melakukan perpaduan menjadi seni batik,” tuturnya.
Sementara dari aspek teknologi, imbuh Wapres, pemprov maupun pemkab/pemkot harus bisa mencarikan celah-celah peralatan agar kerajinan batik tidak mudah rusak.

Akrab dengan Batik
Dalam kesempatan tersebut, Boediono mengaku sudah akrab mengenal batik sejak kecil. Di tempat tinggalnya semasa kecil, Kabupaten Tulung Agung, Boediono kecil sudah pandai untuk membedakan jenis-jenis batik dan jenis-jenis mori bahan baku batik. Hal ini, ia dapatkan dari kakeknya yang juga seorang pengrajin dan pedagang batik.
“Saya sudah mengenal batik sejak kecil,karena kakek saya dulu adalah seorang pengrajin dan pedagang batik. Bahkan dulu saya bisa membedakan antara mori Primissima dan mori prima, serta bisa membedakan jenis batik Solo, batik Jogja, hingga batik Tulung Agung,”lanjutnya.
Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko mengatakan, bahwa pemerintah Jawa Tengah mengajak daerah kota dan kabupaten lain untuk mengambangkan batik sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing.
“Kami mengajak daerah lain agar bisa mengangkat batik ciri khas daerah masing-masing. Karena batik kini selain memiliki nilai budaya juga memiliki nilai ekonomi yang bisa menyejahterakan rakyat,”ujarnya.
Untuk itu, lanjut Heru, mulai dari pegawai pemerintah baik Provinsi atau Kabupaten dan Kota harus menggunakan baju batik pada hari-hari tertentu, agar batik tidak hanya menjadi komoditi. Namun juga menjadi nafas kehidupan budaya kita sehari-hari.
Setelah acara pembukaan di lapangan Jetayu, Wapres bersama Herawati Boediono didampingi Walikota Pekalongan, Hm Basyir Ahmad bersama Ketua DPRD, Balqis Diab, mengunjungi stand-stand batik di Gor Jetayu dan berdialog dengan pemilik Stand.

No comments:

Post a Comment

Be Someone Who Seeks Comfort And Style