Sunday, January 17, 2016

Batik untuk Berbagai Keperluan


Batik sebagai warisan budaya Indonesia sangat dikenal di Pekalongan. Tak sedikit pengrajin batik yang tumbuh di kota santri ini.
Kini, batik tidak hanya digunakan dalam acara formal, melainkan berbagai acara santai yang sudah lebih fleksibel penggunaannya dan disesuaikan jenis serta desain batiknya.
Imel, warga asli Pekalonga mengaku bangga saat memakai pakaian khas tersebut. Baginya tidak hanya untuk acara formal saja, baik untuk jalan-jalan, kerja, atau agenda lainnya, batik bisa digunakan.
“Sudah banyak desain bervariatif dari para pengrajin. Selain itu modelnya bagus-bagus, saya bangga saat mengenakannya,” ungkapnya.
Bagi perempuan yang bekerja di perusahaan swasta tersebut, batik juga menjadi uniform bebas, namun mampu menampakkan kesopanan. “Bisa terlihat anggun dan kalem si pemakai baik cowok maupun cewek, saya bersama teman senang saat memakai seragam batik yang sama, untuk couplepun bisa, terlihat bagus digunakan, bangga saja memakai salah satu warisan dunia,”

Monday, January 4, 2016

Sentra Batik Trusmi Buka Wisata Edukasi


Sentra batik Trusmi yang berada di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, segera membuka wisata edukasi lokal seperti membatik, melukis topeng, membuat topeng dan menari topeng semuanya budaya Cirebon.
"Kami akan membuka wisata edukasi lokal yaitu cara membatik, cara membuat topeng dan menari topeng. Semuanya itu adalah ciri khas Cirebon," kata pemilik toko Batik Trusmi, Ibnu Iryanto saat bertemu dengan wartawan di Cirebon.
Wisata edukasi tersebut adalah salah satu cara mengenalkan budaya Cirebon kepada masyarakat luas dan diharapkan bisa memberikan kesan tersendiri ketika mengunjungi Cirebon.
Ia menuturkan untuk wisata edukasi tersebut akan segera dibuka, karena sekarang ini masih dalam pembenahan sarana dan prasarana.
"Masih dalam pembenahan dan kami menginginkan budaya lokal terutama di Trusmi dan umumnya di Cirebon bisa dikenal oleh masyarakat luas,"
Selain membatik, menurut Ibnu, pihaknya juga berencana memberikan hiburan tari topeng dan juga bisa dijadikan sebuah latihan atau wisata edukasi.
Ia berharap dengan adanya wisata edukasi di Trusmi bisa menambah daya tarik lagi bagi pengunjung batik khas Cirebon tersebut.
"Kami berharap besar dengan adanya wisata edukasi, kami bisa mengangkat Cirebon,"

Friday, January 1, 2016

Beberapa Tempat Wisata Keluarga Liburan Tahun Baru di Kabupaten Pekalongan

AIR TERJUN CINDE




Curug Cinde merupakan salah satu objek wisata alam yang terdapat di Kecamatan Lebakbarang tepatnya di Desa Depok. Jarak Desa Depok sendiri kira – kira 24 Km dari Tugu Durian Kecamatan Karanganyar. selama perjalanan menuju objek wisata ini kita akan disuguhi pemandangan alam yang sangat mempesona dan masih asri, mulai dari perjalanan melewati tengah hutan, jalan pegunungan yang berkelok – kelok dengan tanjakan serta turunan dan gemericik suara air sungai. Suasana alam pedesaan khas daerah pegunungan akan nampak dari deretan perkampungan yang dilalui.
Perjalanan menuju curug Cinde dapat ditempuh dengan sepeda motor ataupun bisa menumpang menggunakan kendaraan mobil bak terbuka. Masyarakat setempat biasa menyebut dengan sebutan angkutan mobil “doplak”.
Untuk menuju curug Cinde bila dari Pantura Pekalongan dapat menggunakan jasa bus ataupun angkutan kota - pedesaan dari terminal Pekalongan ke arah terminal angkutan pedesaan/pasar Kecamatan Karanganyar atau melalui rute perjalanan Pertigaan Pantura Wiradesa - Kota Kajen - Tugu Durian Kota Karanganyar. Dari perempatan Tugu Durian depan kantor kecamatan Karanganyar atau dari pasar Karanganyar bisa menggunakan mobil bak terbuka “doplak” menuju Kecamatan Lebakbarang ataupun langsung menuju Desa Depok dengan jarak kira – kira 10 Km dari Kantor Camat Lebakbarang.
Rute perjalanan dari Karanganyar menuju Kecamatan Lebakbarang akan melalui jalan desa Lolong, yaitu sebuh desa yang terkenal sebagai sentra penghasil durian lokal. Awal musim durian yang biasanya jatuh di bulan Desember hingga musim puncaknya pada bulan Januari-Pebruari ini akan menghadirkan suasana "musim durian tiban" ditandai munculnya  gubuk-gubuk atau tenda penjual durian unggul varietas lokal  disepanjang jalan Karanganyar - Lolong. Kanan kiri jalan akan nampak kebun durian dengan buahnya yang bergelantungan, dan hasil panenan akan langsung dipajang dipinggir-pinggir jalan. Puncak acaranya musim panen durian ini telah dijadikan agenda wisata tahunan dengan digelar festival/kontes durian varietas lokal di Desa Lolong Karanganyar.
Dari Lolong ke Desa Depok Lebakbarang akan melalui jalan beraspal dengan membelah hutan pinus. Kendaraan akan berhenti sampai di desa Depok, dan rute selanjutnya ke Curug Cinde hanya dapat ditempuh dengan perjalanan kaki kurang lebih 2,5 km atau selama kurang lebih 2 jam. Perjalanan menuju lokasi curug Cinde sendiri masih melalui jalan setapak yang menanjak dan licin. Selama perjalanan menuju curug ini akan disuguhi pemandangan air terjun kecil dengan ketinggian masing-masing sekitar 5 dan 30 m. Masyarakat setempat menamainya sebagai air terjun Silengsar yang digunakan sebagai sumber mata air dan dialirkan melalui pipa ke pemukiman penduduk sekitar.
Datang ke Curug Cinde memberikan tantangan adrenalin tersendiri bagi penggemar wisata alam dan pecinta alam karena menarik sebagai obyek bidikan kamera. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang eksotik khas pegunungan, bebatuan besar berserakan, air jernih yang mengalir di sekitaran tebing, pepohonan tinggi yang menjulang, gemuruh suara air terjun jatuh dari tebing yang tinggi.
Selain menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang terletak di desa yang berbatasan langsung dari kabupaten Banjarnegara ini kita pun dapat menikmati alam pedesaan yang masih sangat asri. Masih terdapat beberapa pembangkit listrik tenaga air (kincir air) yang digunakan oleh warga Depok khususnya untuk memenuhi kebutuhan penerangan sehari – hari.
Selian itu kita pun dapat menikmati hijaunya pemandangan sawah yang baru akan menguning ataupun sekedar mampir dan sowan ke rumah penduduk desa dan ramah – ramah untuk sekedar mampir ngombe (mampir minum) kopi khas Lebakbarang, yaitu kopi buatan sendiri yang cara pembuatanya masih ditumbuk menggunakan alat penumbuk tradisional yang juga merupakan salah satu hasil mata pencaharian para penduduk Kecamatan Lebakbarang bila musim panen telah tiba.
Untuk oleh-oleh dari kawasan ini, pelancong wisata alam dapat membeli kopi tumbuk asli Lebakbarang, madu hutan dan gula merah aren alami tanpa pengawet. Desa Mendolo Kecamatan Lebakbarang sudah dikenal sebagai pengumpul madu hutan dan Desa Timbangsari sebagai sentra pengrajin gula aren di Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan.

AIR TERJUN MUNCAR
Curug Muncar berada di lereng Gunung Ragajambangan di ketinggian 1249 m diatas permukaan laut (dpl).  Ada beberapa air terjun di kawasan ini, tetapi salah satu yang besar dan banyak dikunjungi adalah Curug Muncar. Berjarak sekitar 30 km dari Kajen atau 70 km dari ibu kota kabupaten Pekalongan.  Untuk mencapai air terjun ini dapat ditempuh dari Kota pekalongan sekitar 2 s.d. 2,5 jam perjalanan menggunakan sepeda motor.  Kondisi jalan menuju kesana tidak mudah karena harus melewati jalanan mendaki, bertebing dan berkelok-kelok. Jalan beraspal hanya sampai di jalan utama kecamatan, sehingga untuk sampai di lokasi harus berjalan kaki mendaki perbukitan.  Selain itu belum ada akses angkutan umum ke desa Curug Muncar, begitupun dengan ojeg.

WATU IRENG



Pekalongan memang sudah lama dikenal dengan julukan sebagai Kota Batik. Hampir disetiap sudut kotanya kita bisa menemukan sentra produksi dan penjualan batik khas Pekalongan yang cantik. Untuk mengetahui tentang sejarah batik pun Pekalongan mempunyai Museum Batik yang terletak di Jalan Jetayu nomor 1 Kota Pekalongan. Namun tidak hanya batiknya saja yang menjadi andalan pariwisata dari Pekalongan, wilayah Kabupaten Pekalongan juga ternyata mempunyai pemandangan alam yang cantik yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.
Kalau di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat ada Gunung Kelam yang merupakan sebongkah batu monolit yang paling besar di dunia, maka di Pekalongan punya yang namanya Bukit Watu Ireng yang mempunyai karakteristik hampir sama dengan Gunung Kelam. Bukit Watu Ireng terletak di lereng Gunung Rogojembangan yang masuk dalaam wilayah Desa Lambur, Kecamatan Kandang Serang, Kabupaten Pekalongan dan berjarak sekitar 20 km dari Kota Kajen yang merupakan ibukota Kabupaten Pekalongan. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Watu Ireng (batu hitam) karena memang batu yang ada ditempat tersebut berwarna hitam.
Bukit Watu ireng mempunyai luas sekitar 2 hektar. Dari atas Bukit Watu Ireng ini kita bisa melihat pemandangan kearah hutan pinus dan karet serta perkebunan dan sawah warga sekitar yang sangat hijau dan menyejukan. Sejauh mata memandang kita akan melihat pemandangan yang sangat menenangkan. Ditambah lagi dengan udara sejuk yang pegunungan akan membuat siapa saja akan betah berlama-lama untuk menikmati pemandangan indah dari Bukit Watu Ireng ini. Ada satu keunikan yang bisa kita temukan saat berada diatas Bukit Watu Ireng ini yaitu jika kita menghentak kaki diatas batu tersebut maka akan mengeluarkan bunyi seperti suara gong.
Selain mempunyai pemandangan yang indah, Bukit Watu Ireng ini ternyata menyimpan banyak cerita mistis. Menurut cerita masyarakat sekitar, di Bukit Watu Ireng ini terdapat pintu yang bisa menghubung kedalam sebuah gua yang ada dibawah batu tersebut. Dipercaya bahwa didalam gua tersebut terdapat satu set gamelan dan juga beberapa gaman yang dianggap keramat. Hanya orang tertentu saja yang bisa melihat dan masuk didalam gua tersebut.
Sampai saat ini belum diketahui secara benar bagaimana asal usul dari Bukit Watu Ireng ini. Banyak yang memprediksi bahwa Bukit Watu Ireng ini merupakan peninggalan dari zaman megalitikum.

Kedung Sepingit a.k.a Black Canyon Petungkriyono Pekalongan




Memang Petungkriyono mempunyai potensi-potensi wisata yang menajubkan. Mulai dari Air Terjun yang indah sampai kolam alam yang sangat alami membuat mata kita tergoda. Dimana lokasi Black Canyon atau Kedung Sepingit Petungkriyono ini ?
Lokasi dari Kedung Sipingit ini berada di Desa Kayu Puring Kecamatan Petungkriyono. Seperti biasa sobat masuk dahulu ke kawasan Ekowisata Petungkriyono. Dari gapura selamat datang kira-kira 5KM akan sampai di wilayah Kayu Puring. Pada kanan jalan akan ada spanduk yang membentang di depan gang (jalan kecil) bertuliskan ” Selamat datang di RIVER TUBING bla bla bla”. Dengan ditemukan tanda tersebut silahkan sobat masuk jalan itu untuk menuju ke Basecamp Kedung Sipingit ini.
Setelah sampai di basecamp, sobat wajib membayar uang masuk sebesar 25.000 ( untuk sewa Pelampung, transport via Mobil pick up, dapat Teh, jajan dan beberapa guide ) atau 15.000 (hanya sewa pelampung termasuk guide tanpa mobil pick up alias harus pakai motor sendiri). Dari basecamp sobat dan rombongan akan ditemani oleh beberapa orang guide yang siap menjaga sobat.

Kenapa harus pakai beberapa guide ?
karena disana masih alam bebas yang masih asri,jadi sobat perlu guide untuk kesana dan juga jika dari atas (hulu) terjadi hujan, maka sewaktu-waktu kiriman air yang besar akan masuk ke Kedung ini. Jadi ini sangat berbahaya jika tidak ada guide disana.
Selain guide tersebut menjaga kenyaman dan keamanan sobat, mereka juga akan memberikan free dokumentasi berupa Foto-foto maupun video kepada pengunjung yang datang. Jadi ini akan menjadi perjalanan yang mengasyikan bukan ?
Tapi ingat ya sobat, JANGAN MENGOTORI SPOT WISATA INI, TETAP JAGA KELESTARIAN ALAM !!




Pekalongan Bangun Taman Nursery Horicultura



Kota Pekalongan kini telah mempunyai sebuah taman baru bernama Nursery Horicultura di bekas lahan kuburan Tionghoa di Kuripan Pekalongan Selatan.

Taman ini merupakan hadiah dari Kementerian Pekerjaan Umum pada daerah yang mempunyai perda P2KH atau Program Pengembangan Kota Hijau senilai 5 Milyar rupiah.

Kepada Radio Kota Batik, Kepala DPU setempat, Marsudi Ismanto menjelaskan, bahwa setelah Taman Wilis dan Sorogenen Kota Pekalongan kembali mendapat bantuan taman tersebut.

Menurut Marsudi, Pemkot hanya menyediakan lahan dan perencanaan sedangkan proses pembangunan sepenuhnya merupakan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Marsudi berharap, dengan adanya Nursery Horicultura maka selain bisa mensuplai kebutuhan tanaman nursery juga bisa digunakan untuk rekreasi karena nantinya di taman tersebut juga akan dibuka coffe shop.


Griya Batik Mas

Tuesday, December 29, 2015

Penjualan Batik di IBC Pekalongan Meningkat


hanya Pasar Grosir Setono yang ramai dikunjungi wisatawan selama masa liburan Natal. Kondisi Pusat Perbelanjaan Internasional Batik & Craft (IBC), juga mengalami hal serupa.
Hampir semua pendapatan duta batik (sebutan pemilik kios IBC) mengalami peningkatan luar biasa. “Omzet penjualan batik, pernah mencapai Rp3 juta perhari,” ucap Nurul, karyawan Batik Rayhan kepada Radar.
Nurul mengaku, umumnya para wisatawan membeli baju maupun kain untuk pribadi, dan untuk oleh-oleh guna diberikan kepada saudara maupun tetangganya. “Mulai harga premium sampai harga mahal. Mereka rela beli batik,” ungkapnya.
Sementara itu, Manager Operasional IBC, Soni menambahkan, jumlah bus maupun mobil pribadi yang mampir ke pusat perbelanjaan batik terlengkap di Pekalongan itu meningkat tajam. “Jumlahnya ratusan, baik mobil pribadi maupun bus,” jawabnya.
Untuk memanjakan pengunjung, sambung Soni, pihaknya menyediakan MCK umum yang bersih, parkir paling luas, mushola yang representatif, serta menjual batik berkualitas.

Sunday, December 27, 2015

Liburan ke Pekalongan, Wajib Mampir ke Museum Batik



Menjelang Tahun Baru, banyak wisatawan yang traveling melewati Pekalongan di Jawa Tengah. Kalau kebetulan lewat, bisa mampir ke Museum Batik Pekalongan.
Dikenal sebagai salah satu kota penghasil batik, Pekalongan juga tidak kalah dengan Solo yang punya Museum Batik Danar Hadi atau Yogyakarta yang juga punya Museum Batik. Jika traveler lewat ke Jalan Jatayu No 3, di sana dapat dijumpai Museum Batik Pekalongan.
Pada hari Jumat pekan lalu (25/12/2015) detikTravel sempat berkunjung ke Museum Batik Pekalongan yang tidak kalah menarik dengan lainnya. Keberadaannya pun hadir untuk melestarikan dan mengenalkan batik yang merupakan salah satu budaya kebanggaan Indonesia.
Diresmikan pertama kali oleh mantan Presiden SBY pada 12 Juli 2006, Museum Batik Pekalongan yang menempati bangunan Belanda bekas balai kota itu tampak megah. Hal itu terlihat dari pintu dan jendela besar khas Belanda yang menyambut pengunjung di pintu masuk.
Memasuki museum, traveler pun diwajibkan untuk membayar tiket masuk terlebih dulu sebesar Rp 5 ribu di tempat administrasi. Tentu uang retribusi yang dibayarkan akan digunakan untuk perawatan dan keberlangsungan museum.
Tepat di sisi kanan pintu masuk, traveler juga dapat menjumpai papan yang berisi informasi tentang ruangan yang ada di dalam museum. Sayangnya pemandu museum sedang beristirahat saat detikTravel berkunjung. Tapi umumnya acara keliling museum dipandu oleh seorang tour guide.
Museum Batik Pekalongan terbagi menjadi tiga ruang pameran yang menyimpan koleksi batik, ruang perpustakaan, audio visual, kedai batik, hingga tempat pembuatan batik yang boleh diikuti oleh siapa saja.
Di ruang pameran, dapat dijumpai berbagai koleksi batik tua hingga modern. Tidak hanya batik yang berasal dari Pekalongan saja, namun juga dari berbagai daerah di nusantara seperti Sumatera hingga Papua.
Selain itu juga terdapat pajangan ragam kain yang dipakai untuk bahan batik, hingga aneka ragam alat dan pewarna alami hingga kimia. Lalu dijumpai juga informasi perihal batik hingga kain yang tentunya dapat menambah khazanah ilmu traveler tentang batik.
Setelah puas melihat koleksi batik, Anda juga bisa belajar membatik secara tradisional. Dengan menggunakan canting berisi malam, siapa pun boleh membatik di atas kain dengan motif bunga sederhana dan lainnya. Ada juga satu ruangan khusus yang tampaknya digunakan oleh para pekerja untuk membatik.
Kalau masih belum puas, pengunjung juga bisa melihat sejarah batik di ruang audio visual yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Museum juga tampak asri dengan keberadaan taman hijau yang ada di tengah bangunan peninggalan Belanda tersebut.
Jadi daripada pusing kena macet di Pekalongan, sekalian saja traveler mampir ke Museum Batik Pekalongan. Sudah murah, Anda bisa mengenal dan belajar cara pembuatan batik. Dijamin seru dan sarat edukasi.

Griya Batik Mas
tokobatikmas.com

Friday, December 25, 2015

Shopping and Traveling in Pekalongan City of Batik



Kota Pekalongan terkenal dengan corak dan motif batik yang khas maka batik menjadi salah satu alternatif oleh-oleh batik Pekalongan untuk keluarga anda di rumah. Apakah anda tertarik untuk berkunjung ke Pekalongan, jika anda belum pernah ke Pekalongan maka tak ada salahnya anda mencoba berlibur di kota Pekalongan. Saya jamin ada kepuasan tersendiri ketika anda berkunjung ke tempat wisata di Pekalongan ini.


Sunday, December 20, 2015

60 Usaha Batik Difasilitasi IPAL Komunal



Sebanyak 60 unit usaha batik di Kelurahan Pringrejo akan difasilitasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal.
Pembangunan IPAL Komunal, merupakan bantuan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dengan tersambungnya unit usaha batik tersebut ke IPAL komunal diharapkan dapat mengurangi pencemaran sungai, akibat pembuangan limbah batik tanpa melalui proses pengolahan.
Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah, Bahan Berbahaya dan Beracun pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tuti Hendrawati Muntarsih menjelaskan, IPAL komunal sedang dibangun untuk mengatasi pencemaran akibat limbah produksi batik. Dijelaskan dia, kapasitas IPAL komunal yang dibangun di Kelurahan Pringrejo untuk 60 unit usaha batik.
Menurut Tuti, hingga saat ini sudah ada 29 pelaku usaha batik yang mendaftarkan usaha batiknya untuk tersambung dengan IPAL komunal. “Dengan adanya IPAL komunal ini nanti, beban pencemaran ke Sungai akan berkurang. Sehingga air Sungai Bremi nanti tidak akan berwarna-warni lagi,” terangnya saat meninjau pembangunan IPAL komunal di Kelurahan Pringrejo, Jumat (18/12). Pembangunan IPAL komunal industri kecil batik tersebut menelan anggaran sebesar Rp 705,914 juta.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pekalongan Sutarno menjelaskan, BLH Kota Pekalongan berupaya memperbanyak pembangunan IPAL komunal guna mengatasi pencemaran akibat limbah produksi batik.
Setelah pembangunan IPAL komunal tersebut, BLH Kota Pekalongan berencana membangun satu unit IPAL komunal lagi di tepi Sungai Asem

Maria Harfanti Kenakan Batik Parang Rusak nan Seksi Elegan



Pesona kain dan motif batik ditebarkan oleh sang juara 3 Miss World 2015, Maria Harfanti, selama menjalani masa karantina Miss World di China, beberapa waktu lalu.
Rasa bangga Maria mengenakan motif batik terlihat jelas pada pilihan busananya selama menjalani karantina tersebut.
Pada salah satu foto akun Instagram pribadi, @mariaharfanti, dia tampak mengenakan blouse tanpa lengan dengan motif batik parang rusak berwarna coklat.
Dalam pemahaman filosofi batik, motif parang rusak memiliki arti sebuah lambang manusia yang internal melawan kejahatan dengan mengendalikan keinginan sehingga membuat seseorang menjadi lebih bijaksana dan memiliki watak mulia.
Padanan celana panjang putih terasa begitu tepat untuk menyelaraskan permainan warna coklat batik parang rusak pilihan Maria.
Uraian kalimat pada teks foto, Maria mencurahkan rasa bangganya pada wastra nusantara yang merupakan peninggalan sejarah dan budaya paling mendalam di Indonesia.
“Wherever I am, I Show my identity, culture, and pride as an Indonesian,” tulis Maria.
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, memiliki arti bahwa Maria selalu memperlihatkan identitas budaya di mana pun dia berada karena rasa bangga menjadi seorang bangsa Indonesia.

Saturday, December 12, 2015

Museum Tekstil buka workshop membatik gratis



Pihak Museum Tekstil membuka workshop membatik gratis, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Festival Tekstil yang resmi digelar hari ini hingga 14 Desember mendatang. 

Selain workshop, festival bertajuk "The Many Colors of Timor's" atau Puspa Warna Wastra Timor", itu juga memamerkan koleksi kain tenun Timor sebanyak 100 helai.  Ke-100 kain ini merupakan koleksi pada pencinta atau kolektor kain tenun di Jakarta, menurut siaran pers yang diterima ANTARA News, Kamis. 

Tak hanya itu, pihak museum juga menggelar pentas kesenian dan musik untuk menghibur para pengunjung. 

Saat pembukaan, ahli waris dari kolektor kain dan penulis buku tentang kain Indonesia, Nian S. Djoemana, menyerahkan koleksi kain lurik milik Nian sejumlah 126 koleksi. 

Kepala UP Museum Seni, Esti Utami, berharap melalui fesival ini masyarakat dapat terinspirasi dan termotivasi untuk berperan aktif  mengembangkan Museum Tekstil, dan terus bersinergi melestarikan budaya Wastra Indonesia.

Museum Tekstil dibuka setiap hari kecuali hari Senin dan libur nasional, mulai pukul 9.00 WIB hingga 15.00 WIB. Pengunjung hanya dikenakan biaya Rp5.000 (dewasa) atau Rp3.000 (mahasiswa) atau Rp2.000 (pelajar) untuk sekali masuk.


Griya Batik Mas

Be Someone Who Seeks Comfort And Style