Tuesday, June 3, 2014

Ancaman Batik Kuno di Masa Mendatang

Selamatkan Batik Kuno
Mengenakan batik kini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi warga Indonesia. Citra batik kian naik seiring meningkatnya kesadaran untuk mempopulerkannya melalui beragam cara, seperti menjadikannya sebagai fesyen harian untuk seragam kantor, pakaian yang gaya untuk bersantai, hingga aksesories pemanis utama untuk ruangan tamu di rumah.

Namun di balik semua itu, ada beberapa hal yang patut kita renungkan bersama. Kini, banyaknya pemakaian batik dan kain dengan motif batik membuat kita lupa dengan keberadaan kain-kain batik kuno yang merupakan peninggalan sejarah dari kain dunia milik Indonesia ini.

Di Museum Tekstil Jakarta, kain-kain batik kuno koleksinya hanyalah sebagian kecil dari kain-kain batik mahakarya yang kini telah berpindah tangan ke beberapa kolektor kain-kain tua berharga di luar negeri.

“Koleksi yang ada di museum ini hanyalah beberapa kain batik kuno yang sempat diselamatkan kolektor nasional kita dan disumbangkan untuk museum ini sebagai bukti bahwa kain batik kita begitu indah dan layak dicintai,” terang Ratih, Staf Museum. Ia juga menyebutkan 786 koleksi kain batik seluruh Nusantara. “Sayangnya,” kata Ratih, “yang kuno tidaklah mencapai angka setengahnya.”

“Walau batik kini diakui sebagai salah satu warisan Indonesia untuk dunia, setiap pekan, orang Indonesia yang ke museum ini untuk melihat dan mempelajari batik tidak mencapai 100 orang,” jelas Agus, staf pemegang karcis masuk di Museum Tekstil.

Batik Jawa Hokokai
Kondisi ini membuat sejumlah kolektor batik nasional pun mulai was-was dengan keberadaan kain batik kuno yang ditengarai sudah tidak berada di Indonesia lagi. Beberapa batik kuno ini merupakan peninggalan dari Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta, serta kain batik Jawa Hokokai yang rata-rata dibuat para pembatik dari Jawa Tengah edisi tahun 1944-1945. Kain batik Jawa Hokokai dibuat berdasarkan permintaan Pemerintah Jepang untuk dijadikan buah tangan mereka.

“Saat ini banyak sekali batik kuno kita yang tersebar di luar negeri. Kolektor kain kuno luar negeri amat menyukai batik kita, dan mereka rela untuk mendapatkan batik kuno kita dengan membayar berapapun harganya,” ungkap Kepala Galeri Batik Museum Tekstil Jakarta, Tumbu Ramelan.

Menurut Tumbu, salah satu keistimewaan batik kuno Indonesia dengan kain-kain kuno lainnya dari negara lain adalah kain batik kuno ini dulunya identik dengan filosofi kehidupan serta erat kaitannya dengan doa-doa keselamatan yang dituangkan seorang pembatik pada kain batiknya. Selain itu, keunikan dari tulisan dan gambar-gambar di kain batik tersebut tidak akan ditemukan pada kain-kain lainnya. Terlebih, kain batik yang diperuntukkan khusus bagi para pembesar atau raja dan sultan yang memerintah di tanah Jawa sangat sarat dengan tulisan petuah-petuah hidup untuk sang raja.

“Itulah sebabnya saya dan para kolektor kain batik nasional kini melakukan pencarian pada keberadaan kain batik kuno kita,” ujar Tumbu dengan nada mantap. “Walau sangat berat, namun kami berusaha agar kain batik kuno yang masih ada di Indonesia, akan tetap berada di Indonesia,” terangnya lagi sembari menyebut bahwa beberapa kain batik kuno yang tersisa kini tengah menjadi incaran para kolektor kain luar negeri.

Harga kain batik kuno seperti batik Hokokai, disebut Tumbu, kini harganya mencapai 30 juta hingga 50 juta rupiah per lembar.

Ancaman Kolektor Asing
Dari penelusuran, beberapa kain batik kuno seperti batik Lawasan, batik Mega Mendung, batik Tjokrohadi Lawas, batik Tasikan, dan beberapa batik dari Cirebon, yang kesemuanya adalah batik tulis lawas berusia 100 tahun, terpampang di salah satu situs penjualan Kaskus. Kain-kain ini hanya dibanderol sebesar 500 ribu hingga 1 juta rupiah. Padahal, jika melihat kondisinya, harga batik-batik ini bisa mencapai puluhan juta rupiah.

“Itu batik-batik kuno. Sangat disayangkan jika diambil orang luar. Saya, hingga kini pun terus melakukan penelusuran kain batik kuno di beberapa desa terpencil yang ada di Yogyakarta, Solo, Wonogiri, dan Malang,” ungkap Nelly Maramis, salah satu kolektor kain batik nasional. Menurut Nelly, kain batik kuno dari tahun 1900 hingga 1930 kini amat sulit ditemukan di sentra batik di Indonesia.

Selain para kolektor nasional, ada juga kolektor luar yang memang mengakui bahwa keberadaan batik kuno yang eksotis. Sebut saja misalnya seorang guru besar di Emiritus Kokushikan University Jepang, Masakatsu Tozu. Ia memiliki tak kurang dari 300.000 helai kain batik kuno yang berhasil dikumpulkannya sejak tahun 1979, saat pertama kali berada di Indonesia.

Keberadaan batik-batik kuno yang memiliki nilai historis inilah yang harus kita jaga, agar keberadaannya tetap di Indonesia. Tentu kita tak ingin kain-kain batik kuno tersebut akhirnya hanya bisa ditemukan di museum-museum luar negeri ataupun di galeri milik para kolektor kain dunia. Tentu perlu ada keprihatinan bersama jika perkembangan batik yang kini semakin modern malah menyingkirkan keberadaan batik kuno. Pemerintah juga harus punya cara tegas untuk melindungi keberadaan warisan leluhur ini.

Tanggal 2 Oktober, yang ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, merupakan momentum yang harus bisa menjadikan warga Indonesia bukan hanya mencintai batik sebagai sandang semata, tetapi juga harus mampu melindungi batik sebagai warisan leluhur untuk anak cucu kita.

Sumber : ghiboo.com

No comments:

Post a Comment

Be Someone Who Seeks Comfort And Style