Wednesday, January 7, 2015

Pesona Batik Belanda



Akulturasi kebudayaan terwujud dalam show pertama di hari kelima perhelatan akbar Jakarta Fashion Week (JFW) 2013. Batik Belanda kembali menemukan jalan menuju kekayaan dunia mode Indonesia melalui show “Revival of Batik Belanda” oleh Erasmus Huis. Pusat Kebudayaan Belanda yang untuk pertama kalinya turut serta dalam JFW ini menggandeng 3 desainer muda Indonesia lulusan Lomba Perancang Mode 2011 pada 7 November 2012.

Iwan Amir membuka show dengan koleksi "Afternoon'I" yang terinspirasi dari keanggunan noni Belanda dalam balutan batik di kehangatan sore hari. Dalam 12 busana bermotif flora, Iwan menghadirkan koleksi yang didominasi warna khaki, peach, biru, hijau, dan oranye. Garis rancangan yang sederhana dan kasual menggambarkan karakter wanita modern yang bebas dan kuat, namun tetap membumi.

Berbeda dengan Iwan, Sischaet Detta tampil dengan rancangan yang lebih ‘keras’. Perpaduan batik dan kulit dengan dominasi warna emas menjadikan 12 busana rancangan Sischaet terlihat lebih modern, futuristik, dan glam. Terinspirasi masa kolonial, batik koleksi Sischaet memiliki motif yang sangat unik; berunsur prajurit dan peperangan.

Untuk sesi terakhir, Lulu Lutfi Labibi mencoba menggebrak tradisi. Batik Belanda yang biasanya tampil dengan warna cerah, kini dipadankan dengan warna hitam. Keunikan lainnya, Lulu menambahkan sentuhan kain lurik Yogyakarta dan tenun ikat pada total 24 busana yang ditampilkan. Hasilnya? Koleksi batik klasik, anggun, dan lebih gaya! (Dian Probowati/Tim Peliput Cita Cinta)

No comments:

Post a Comment

Be Someone Who Seeks Comfort And Style